Bersama Pasangan Tercinta, Memuliakan Mertua

Bersama Pasangan Tercinta, Memuliakan Mertua

Oleh : Cahyadi Takariawan           

Masih edisi harmonisasi menantu mertua. Kali ini akan saya sampaikan bagaimana pasangan suami istri seharusnya bersikap baik terhadap mertua. Hal ini penting mengingat ketidaktepatan dalam bersikap bisa berdampak kepada munculnya konflik segitiga : suami – istri – mertua; atau konflik suami – istri – orangtua. Maka hendaknya pasangan suami istri bisa memiliki kesamaan pandangan dan sikap dalam berhubungan dengan mertua.

Tujuan dari sikap dan pandangan yang kompak antara suami dan istri ini adalah untuk memuliakan dan membahagiakan mertua, sebagaimana memuliakan dan membahagiakan orangtua sendiri. Dengan demikian, keharmonisan suami dan istri tetap dijaga dan dipertahankan, demikian pula keharmonisan hubungan anak dengan orangtua, serta keharmonisan hubungan menantu dengan mertua.

Saat Terjadi Konflik dengan Mertua

Prinsip penting dalam menghadapi mertua adalah kekompakan dari pasangan suami istri. Mereka harus berada di pihak yang sama ketika menghadapi mertua. Ketika suami dan istri berada di pihak yang berbeda, akan berdampak mereka tidak kompak, sehingga memperparah peluang munculnya konflik segitiga.

Yang dimaksud dengan ‘berada di pihak yang sama’ adalah, suami dan istri berada pada satu pihak untuk mencari solusi, dalam menghadapi mertua. Sebagai contoh, ketika terjadi konflik antara ibu atau ayah mertua dengan menantu perempuan, maka sikap yang harus diambil suami adalah membantu istri untuk mencari solusi. Suami tidak boleh menyatakan kepada sang istri, ”Ini bukan masalahku. Ini masalahmu dengan ibuku”. Nah, sikap ini akan semakin menjauhkan istri dengan ibu mertua. Istri akan merasa ‘dimusuhi’ secara kolektif, baik oleh suami maupun ibu mertua.

Demikian pula ketika terjadi konflik antara ibu atau ayah mertua dengan menantu laki-laki, maka sikap yang harus diambil istri adalah membantu suami untuk menemukan solusi terbaik. Istri tidak boleh menyatakan kepada suami, ”Ini bukan masalahku. Ini masalahmu dengan ayahku. Aku tidak punya masalah dengan ayahku”. Sikap ini juga akan semakin menjauhkan suami dengan ayah atau ibu mertua. Suami akan merasa ‘dimusuhi’ secara kolektif, baik oleh istri maupun mertua.

Kesamaan sikap suami istri ini menjadi sangat penting untuk mempermudah menemukan solusi yang paling tepat, sekaligus melokalisir konflik, dan tidak membuat semakin melebarnya medan konflik. Jika tidak tepat dalam mengambil sikap, bisa berdampak negatif karena membuat semakin buruk hubungan antara suami dan istri, juga antara menantu dan mertua.

Suami Istri Sebagai Satu Tim

Suami dan istri adalah satu keluarga inti yang mandiri, maka mereka semua harus menjadi satu tim yang kompak dalam menghadapi mertua. Sekarang saya ajak anda membandingkan tiga perbedaan sikap dalam menghadapi mertua. Pilihan sikap akan sangat menentukan suasana keluarga dan suasana hubungan menantu – mertua.

Sikap pertama : suami membela orangtuanya sendiri, istri membela orangtuanya sendiri

Jika pasangan suami istri mengambil sikap dan posisi yang berbeda, maka  akan muncul konflik horisontal antara mereka berdua, dan menjauhkan keluarga suami dengan keluarga istri. Keduanya membela orangtua masing-masing, dengan menyalahkan pasangan.

Suami : ”Kamu yang salah, ibuku sudah sangat baik kepada kamu”

Istri : ”Kamu yang salah, ayahku sudah sangat baik kepada kamu”.

Sikap membela orangtua masing-masing seperti ini memiliki dua dampak. Pertama, dampak menjauhkan suami dan istri. Kedua, menjauhkan menantu dengan mertua. Oleh karena itu, sikap seperti ini selayaknya dihindari, karena tidak akan menghasilkan solusi. Justru semakin memperparah keadaan.

Sikap kedua : suami membela orangtua istri, dan istri membela orangtua suami

Kadang yang terjadi berkebalikan dari sikap pertama. Suami justru lebih dekat dengan mertua, maka ia membela mertua, dan istri juga lebih dekat dengan mertua, sehingga membela mertua. Keduanya membela mertua masing-masing, dengan menyalahkan pasangan.

Suami : ”Kamu yang salah, ibumu sudah sangat baik kepada kamu”

Istri : ”Kamu yang salah, ayahmu sudah sangat baik kepada kamu”.

Sikap seperti ini juga tidak menghasilkan solusi. Karena suami dan istri mengambil sikap yang berbeda dengan membela mertua. Dampak yang muncul juga ada dua. Pertama, menjauhkan suami dan istri. Kedua, menjauhkan anak dengan orangtua.

Sikap ketiga : suami dan istri kompak untuk menghadapi orangtua maupun mertua

Inilah sikap yang paling direkomendasikan. Hendaknya suami dan istri menjadi satu tim yang kompak dalam bersikap dan menghadapi orangtua maupun mertua. Mereka menyatakan:

“Ini masalah kita berdua, maka mari kita hadapi bersama”.

”Ini bukan hanya masalahmu, namun ini masalah keluarga kita. Maka kita harus menghadapinya bersama”.

Suami dan istri berada pada satu posisi, dan berusaha menemukan solusi terbaik setiap terjadi konflik antara anak dengan orangtua maupun menantu dengan mertua. Inilah sikap yang lebih menjamin terwujudnya solusi.

Karena suami istri sudah kompak dalam sikap dan posisi, maka mereka bisa bergandengan tangan untuk memuliakan orangtua dan mertua. Mereka berdua berkolaborasi untuk menciptakan suasana keharmonisan hubungan timbal balik antara anak dengan orangtua dan menantu dengan mertua, karena hubungan mereka berdua sudah harmonis dan bahagia.

Memuliakan Mertua

Yang harus dilakukan oleh pasangan suami istri adalah, berusaha memuliakan dan membahagiakan mertua, sebagaimana mereka memuliakan dan membahagiakan orangtua, tanpa mengorbankan kebahagiaan suami dan istri itu sendiri. Hal ini penting untuk terus diupayakan, agar kehidupan berumah tangga berada dalam suasana harmonis dan bahagia.

Kebahagiaan dan keharmonisan hidup berumah tangga tidak hanya ditentukan oleh kondisi suami dan istri sendiri, namun juga dipengaruhi oleh kondisi hubungan menantu dengan mertua. Jika ada konflik yang parah antara menantu dengan mertua, akan bisa merusak kebahagiaan hidup berumah tangga. Untuk itu, upayakan selalu untuk membina keharmonisan menantu dan mertua, dengan cara mengambil sikap dan posisi yang sama.

Jangan memperlebar konflik karena suami dan istri mengambil sikap dan posisi yang berbeda.