Jodoh : Ditunggu Atau Dijemput?

Jodoh : Ditunggu Atau Dijemput?

Oleh : Cahyadi Takariawan

Salah satu persoalan sepanjang sejarah kemanusiaan dalam hal pernikahan adalah, bagaimana cara mendapatkan jodoh? Apakah cukup menunggu dengan penuh kesabaran, ataukah harus aktif mencari dengan penuh pengharapan. Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan ini, mengingat jodoh adalah salah satu rahasia dan ketentuan Allah bagi manusia.

Pilihan para jomblo dalam urusan jodoh ini bersifat tentatif, bisa memilih untuk menunggu saja, namun bisa pula memilih untuk aktif menjemput. Situasi dan kondisi setiap orang berbeda-beda, maka pilihan sikapnya pun bisa berbeda. Apapun pilihannya, ada hal penting yang harus dilakukan terlebih dahulu, yaitu mematutkan diri untuk mendapatkan jodoh salih / salihah sesuai harapan. Patutkan dan pantaskan diri secara terus menerus, agar Allah mengirimkan jodoh terbaik untuk urusan dunia dan akhirat.

Sekarang kita focus kepada menjawab pertanyaan, bagaimana cara mendapatkan jodoh menurut ajaran Islam? Berikut beberapa cara mencari, memilih dan mendapatkan jodoh. Bisa pasif, bisa aktif.

1. Berdoa dan Memohon Bimbingan Allah

Pertama kali harus diyakini bahwa jodoh itu berada dalam kekuasaan Allah Ta’ala. Dengan keyakinan ini, kita tidak akan terjatuh ke dalam sikap kesombongan di satu sisi, bahwa seseorang merasa sangat gampang mencari calon jodoh karena cantik atau tampan. Ia merasa dikelilingi banyak lawan jenis yang memiliki ketertarikan besar kepada dirinya, tinggal ia memilih. Seakan-akan ia tidak berhubungan dengan ketentuan takdir Allah yang pasti berlaku bagi seluruh makhlukNya.

Namun di sisi lain juga terhindarkan dari keputusasaan, seakan-akan jodoh tak pernah bertemu dengan dirinya. Jangan pernah putus asa dari mengharapkan rahmat Allah, karena rahmat Allah sangatlah luas. Berdoalah kepada Allah, berharaplah kepada Allah, mintalah petunjuk dan bimbingan kepada Allah, karena hanya Allah yang Maha Mengetahui semua hal. Sungguh pengetahuan dan usaha manusia sangat terbatas, maka kita harus selalu memohon pertolongan dan kekuatan dari-Nya.  

2. Orangtua Memilihkan Jodoh untuk Anak Perempuan

Di antara cara memilih jodoh adalah dipilihkan bahkan langsung dinikahkan oleh orangtua gadis dengan lelaki salih pilihan orang tuanya. Dalam hal ini, orangtua pihak perempuan yang aktif. Anak perempuan bersifat pasif. Kisah Abdullah bin Abu Wada’ah menjadi salah satu contoh dalam hal ini.

Abdullah adalah pembantu setia Imam Sa'id bin Musayab –semoga Allah merahmati mereka berdua.  Setelah isteri Abdullah wafat, Sa'id bertemu dengannya dan menanyakan, “Tidakkah engkau mencari isteri pengganti ?” Jawab Abdullah, “Semoga Allah merahmatimu. Siapakah orang yang mau menikahkan aku, sementara aku hanya memiliki bekal dua atau tiga dirham saja?” Kata Sa'id, “Aku yang akan menikahkanmu”.

Kemudian Imam Sa'id bin Musayab mengucapkan tahmid kepada Allah dan mengucapkan shalawat kepada Nabi, lalu menikahkan Abdullah dengan mahar dua dirham. Sesaat kemudian Abdullah melakukan shalat Maghrib lalu pulang ke rumah. Ketika itu ia sedang berpuasa dan tengah menyiapkan berbuka dengan roti dan buah zaitun. Saat ia tengah berbuka, seseorang mengetuk pintu rumahnya, ternyata adalah Sa'id bin Musayab.

“Apa yang dapat aku bantu ?” tanya Abdullah.

“Bukankah engkau seorang yang membujang kemudian menikah tetapi isterimu meninggal ? Aku merasa khawatir bila engkau sendirian pada malam ini, dan inilah isteri barumu”, jawab Imam Sa'id bin Musayab.

Di belakang Sa'id, telah berdiri seorang perempuan, lalu diminta untuk maju dan diserahkan kepada Abdullah. Dengan pandangan mata yang tajam dan teliti, Abdullah menatap perempuan itu. Segera ia naik ke ruang atas untuk memberikan isyarat undangan kepada tetangganya. Sesaat kemudian para tetangga berkumpul dengan penuh tanda tanya. “Saudara-saudaraku, hari ini aku telah dinikahkan oleh Sa'id bin Musayab dengan puterinya”, kata Abdullah menjelaskan.

Contoh kejadian yang dilakukan oleh Imam Sa'id bin Musayab ini menggambarkan sebuah proses pernikahan yang dilakukan oleh bapak pihak perempuan. Sejak dari proses pemilihan jodoh hingga pelaksanaan akad nikah dilaksanakan oleh bapaknya. Tampak di sini salah satu model bagaimana cara mendapatkan jodoh, yaitu dipilihkan oleh orang tuanya.

Apabila orangtua mencarikan calon suami bagi anak perempuannya, hendaklah tetap meminta persetujuan dari anaknya. Semua ini semata-mata dalam rangka menjaga kebaikan keluarga itu sendiri nantinya, agar tidak memunculkan berbagai ketidakbaikan akibat tidak dilibatkannya anak perempuan dalam penentuan calon suami.

3. Orangtua Aktif ‘Menawarkan’ Anak Perempuan kepada Lelaki Salih

Ada contoh dari Umar bin Khathab yang aktif menawarkan anak perempuannya, Hafshah, setelah suami Hafshah syahid di medan Uhud, untuk dinikahi para sahabat-sahabat mulia. Suatu saat Umar bin Khathab menawarkan kepada Utsman bin Affan ra. “Ya Umar berilah aku waktu untuk berpikir”, demikian jawab Utsman.

Selang beberapa hari Utsman menyampaikan jawaban, “”Ya Umar, rasanya belum tiba saatnya bagiku untuk menikah”. Kemudian Umar menawarkan kepada Abu Bakar ra. Ternyata Abu Bakar hanya diam, dan ini membuat Umar merasa tersinggung.  Ia kemudian menghadap Rasul saw menyampaikan sikap Utsman dan Abu Bakar atas tawarannya.

Rasulullah saw bersabda, “Semoga Allah menjodohkan puterimu dengan orang yang lebih baik dari Utsman, dan Ustman diberi jodoh orang yang lebih baik dari puterimu”. Akhirnya Hafshah dinikahi oleh Rasul saw dan Utsman diambil menantu oleh Rasul saw dinikahkan dengan Ummu Kultsum puteri beliau (Riwayat Bukhari).

Untuk konteks zaman sekarang, boleh saja orang tua aktif mencarikan calon suami bagi anak perempuannya, akan tetapi dalam memutuskan tetaplah harus meminta persetujuan anak perempuan yang bersangkutan, agar tidak menimbulkan kekecewaan.

4. Nabi Saw Menjodohkan Sahabat

Pada zaman Nabi Saw, salah satu cara mendapatkan jodoh adalah dengan diproseskan nikahnya langsung oleh Nabi saw. Perhatikan dialog Nabi saw dengan ‘Ukaf yang masih bujang padahal ia punya kemampuan menikah. Tatkala Nabi saw menganjurkan ia untuk menikah, ‘Ukaf menjawab, “Wahai Rasulullah, aku tidak akan mau menikah sebelum engkau menikahkan aku dengan orang yang engkau sukai”. Maka Nabi Saw bersabda, “Kalau begitu, dengan nama Allah dan berkahNya, aku nikahkan engkau dengan Kultsum Al Khumairi” (riwayat Ibnu Atsir dan Ibnu Hajar).

Dalam kisah ‘Ukaf di atas Nabi saw memilihkan dan menjodohkan ‘Ukaf dengan Kultsum Al Khumairi. Ini menunjukkan suatu contoh dimana proses mendapatkan jodoh bisa melalui seorang pemimpin, tatkala memang urusan itu diserahkan kepada pemimpin tersebut. Nabi dengan hak yang dimilikinya menjodohkan seorang sahabat dengan sahabiyatnya. Contoh seperti ini cukup banyak kita lihat dalam sejarah dakwah Islam.

Di zaman sekarang, bisa difasilitasi oleh lembaga yang terpercaya, untuk membantu proses mencari dan menemukan jodoh, sesuai ajaran Islam. Sangat banyak yang memerlukan bantuan, karena ingin membebaskan diri dari kecenderungan dan jebakan hawa nafsu.

5. Lelaki Aktif Mencari Jodoh

Boleh bagi seorang laki-laki untuk aktif mencari jodoh salihah dengan cara-cara yang terhormat. Ini adalah cara yang paling ‘konvensional’ dan dikenal luas, bahwa seorang lelaki memilih dan meminang perempuan.

Abu Hurairah menceritakan bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk meminang perempuan kalian, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut dengan perempuan kalian. Bila kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar.” (HR. At-Tirmidzi no. 1084, dihasankan Al-Imam Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 1868, Ash-Shahihah no. 1022).

Abu Hatim Al-Muzani juga meriwayatkan hadits yang serupa, “Apabila datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya (untuk meminang perempuan kalian) maka hendaknya kalian menikahkannya dengan perempuan kalian. Bila tidak, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan.” (HR. At-Tirmidzi no. 1085, hadits hasan)

Hadits di atas menunjukkan laki-laki salih datang untuk meminang perempuan salihah. Inilah cara yang paling dikenal luas dan dipraktekkan banyak kalangan.

6. Perempuan Menawarkan Diri Kepada Lelaki Salih

Ada pula sahabiyat Nabi saw yang mencari sendiri calon suami, dengan menawarkan dirinya kepada laki-laki paling shalih, Nabi saw. Anas berkata, “Seorang perempuan datang kepada Rasulullah saw menawarkan dirinya seraya berkata: Wahai Rasulullah, apakah engkau berhasrat kepadaku?” Dalam satu riwayat yang lain disebutkan, perempuan itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku datang hendak menyerahkan diriku kepadamu".

Dalam konteks kehidupan kita saat ini, boleh saja seorang perempuan aktif mencari calon suami salih. Walaupun hal ini biasanya terkendala oleh kultur masyarakat, akan tetapi sesungguhnya bukan merupakan hal yang bersifat aib atau cela. Yang penting teknisnya dilakukan dengan jalan yang bijak dan sesuai dengan fitrah perempuan.

7. Perempuan Boleh Aktif Mencari Jodoh

Pada dasarnya, perempuan boleh aktif mencari jodoh dengan cara-cara yang terhormat. Perempuan boleh menyampaikan maksud untuk menikah dengan lelaki yang dimaksud. Dari Tsabit Al-Bunani, ia menceritakan bahwa Anas bin Malik bercerita: Ada seorang perempuan menghadap Rasulullah Saw menawarkan dirinya untuk Nabi Saw. Dia mengatakan, “Ya Rasulullah, apakah kamu ingin menikahiku?”

Mendengar ini, putri Anas bin Malik langsung berkomentar, “Betapa dia tidak tahu malu. Sungguh memalukan, sungguh memalukan.” Anas membalas komentarnya, “Dia lebih baik dari pada kamu, dia ingin dinikahi Nabi Saw, dan menawarkan dirinya untuk Nabi Saw”. HR. Bukhari nomer 5120.

Demikian pula disebutkan dalam riwayat dari Sahl bin Sa’d. Ada seorang perempuan menghadap Nabi Saw dan menawarkan dirinya. “Ya Rasulullah, saya datang untuk menawarkan diri saya agar kamu nikahi.”

Setelah Nabi Saw memperhatikannya, beliau tidak ada keinginan untuk menikahinya. Hingga perempuan ini duduk menunggu. Kemudian datang seorang sahabat, “Ya Rasulullah, jika kamu tidak berkehendak untuk menikahinya, maka nikahkan aku dengannya.” HR. Bukhari nomer 5030.

Dalam kitab Fathul Bari disebutkan,  ada banyak perempuan yang minta dinikahi oleh Nabi Saw. Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani menyebutkan beberapa riwayat yang menceritakan perempuan lainnya yang menawarkan diri untuk Nabi Saw, diantaranya Khaulah binti Hakim, Ummu Syuraik, Fatimah bin Syuraih, Laila binti Hatim, Zaenab binti Khuzaemah, dan Maemunah binti Al-Harits.

8. Melalui Perantara yang Dipercaya

Apabila perempuan merasa malu untuk langsung menyampaikan kepada laki-laki, bisa juga perempuan melamar laki-laki melalui perantara orang lain yang dipercaya, misalnya melalui ayah, ibu, keluarga, teman, guru ngaji, biro jodoh, dan lain sebagainya. Seperti yang dilakukan oleh Umar bin Khatab Ra, ketika putrinya Hafshah selesai masa iddah karena ditinggal mati suaminya. Umar menawarkan Hafshah ke Utsman, kemudian ke Abu Bakar.

Umar mengatakan, “Kemudian aku menemui Abu Bakar Ash-Shiddiq dan berkata, ‘Jika engkau mau, aku akan nikahkan Hafshah binti ‘Umar denganmu.’ Akan tetapi Abu Bakar diam dan tidak berkomentar apa pun. Saat itu aku lebih kecewa terhadap Abu Bakar daripada kepada ‘Utsman”. HR. Bukhari nomer 5122 dan An Nasa-i nomer 3272.

Hal ini juga dilakukan oleh bunda Khadijah Ra. Dalam kitab Ar-Rahiq al-Makhtum dijelaskan, bunda Khadijah melamar pemuda Muhammad sebelum menjadi Nabi melalui perantara temannya, Nafisah binti Maniyah. Kemudian disetujui semua paman-pamannya dan juga paman Khadijah. Pada saat akad nikah, dihadiri oleh Bani Hasyim dan pembesar Bani Mudhar, dan ini terjadi dua bulan sepulang Nabi Saw dari Syam untuk berdagang barang milik Khadijah.

Demikianlah beberapa ikhtiar yang bisa dilakukan untuk mendapatkan jodoh. Seluruhnya harus berada dalam koridor ibadah kepada Allah, dengan cara yang tidak melanggar aturan Allah dan RasulNya. Dengan niat yang baik, disertai cara yang baik, insyaallah hasilnya pun akan baik. Kita bertawakal kepada Allah.