Kekayaan Tidak Selalu Membahagiakan Keluarga

Kekayaan Tidak Selalu Membahagiakan Keluarga

Banyak orang membayangkan, hidupnya akan lebih bahagia apabila memiliki uang lebih banyak dari yang dimilikinya sekarang, atau mencapai pangkat yang lebih tinggi dari sekarang. Mereka telah memiliki sejumlah gambaran, akan digunakan untuk apa saja uang tersebut apabila suatu saat memilikinya. Rumah yang mewah, mobil yang bagus, sawah dan kebun yang luas, villa di pegunungan, kolam renang yang indah, investasi di sejumlah perusahaan, dan lain sebagainya. Semua gambaran itu tampak indah bagi yang belum memilikinya.

Namun ketika kondisi yang diharapkan itu benar-benar terjadi, ternyata tidak selalu menambah kebahagiaan. Tidak jarang orang justru jatuh ke dalam kesengsaraan setelah hartanya bertambah banyak dan pangkatnya semakin memuncak. Bukan kebahagiaan yang didapatkan, namun justru aneka masalah dan kepedihan mendera kehidupan mereka. Pada titik itu, mereka mengatakan, ternyata lebih bahagia saat kita berada dalam kondisi sebelum ini, saat masih sederhana.

Saya mendapatkan banyak informasi dari beberapa instansi, bahwa tingkat perselingkuhan dan perceraian bertambah banyak setelah para pegawai di instansi itu mendapatkan kenaikan gaji karena program sertifikasi atau renumerasi. Ketika gaji bertambah banyak, muncullah semakin banyak keinginan, yang bertemu dengan godaan. Semakin mudah bagi mereka untuk memiliki Pria Idaman Lain (PIL) maupun Wanita Idaman Lain (WIL), karena ditunjang dengan fasilitas.

Ternyata, pertambahan gaji dalam jumlah yang signifikan, tidak selalu sebanding dengan tingkat kebahagiaan yang didapatkan. Ini bukan hanya pada contoh pegawai negeri atau pegawai kantoran, namun bisa terjadi pada  semua bidang kehidupan. Seorang yang berbisnis dari kecil, lalu dengan segala jerih payah akhirnya bisnis membesar dan berkembang dengan pesat, tidak selalu memberikan hasil pertambahan kebahagiaan yang sepadan. Sikap hidup masing-masing orang yang akan sangat menentukan didapatkannya kebahagiaan atau kesengsaraan.

Petaka Ketika Banyak Harta

Cobalah kita simak penuturan seorang ibu rumah tangga, Nuri (29 tahun) yang dimuat dalam majalah Kartini nomor 2084. Suaminya, sebut saja Eko namanya, adalah seorang pengusaha yang sukses. Usahanya terus berkembang sehingga hartanya mengalir lancar. Kondisi itu tentu saja telah memberikan kebahagiaan bagi keluarga dengan dua anak tersebut, mengingat Nuri dulu berasal dari keluarga yang sederhana dengan hidup yang pas-pasan.

Awal pernikahan mereka demikian menyenangkan, karena Eko amat penyayang dan perhatian terhadap keluarga. Dengan kondisi hidup yang berkecukupan itu,  Nuri mencukupi semua kebutuhan keluarganya, baik ayah, ibu, dan adik-adiknya. Kebahagiaan Nuri semakin bertambah karena Eko mendukung untuk senantiasa membantu kesulitan ekonomi keluarga ayahnya tersebut.

Akan tetapi, kekayaan harta memang tidak selamanya membuahkan kebahagiaan. Cobaan bermula justru karena Eko semakin memiliki harta yang banyak dari usahanya. Dengan uang yang melimpah, ia merasa bisa melakukan apa saja. Sikapnya tiba-tiba berubah dengan drastis. “Ia yang tadinya perhatian dan penyayang kepadaku dan anak-anak, kini tiba-tiba menjadi kurang peduli dan sering sekali meninggalkan kami sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu lamanya,” ungkap Nuri.

“Karena suamiku semakin sering pergi dan semakin sering tidak pulang, aku menjadi tidak percaya. Kusuruh seorang adikku mengikuti perjalanan suamiku. Ternyata temuan adikku sangat menyakitkan hati,” lanjut Nuri. Ternyata, Eko memiliki wanita simpanan yang tidak dinikahinya. Wanita itu ”dipelihara” Eko tentu saja tanpa sepengetahuan Nuri, dan ditempatkan di sebuah kota tempatnya mengembangkan bisnis. Bukan itu saja, ternyata Eko juga hobi berselingkuh dengan perempuan panggilan.

Ketika hal itu ditanyakan secara langsung untuk klarifikasi, justru Eko marah besar. Eko mulai mengungkit-ungkit jasanya selama ini. “Kenapa adikmu harus ikut campur dan berpihak kepadamu? Apa dia lupa, siapa yang membiayainya selama ini?” begitu ungkit Eko.

“Kita ini suami istri, sebuah keluarga dan memiliki anak-anak. Papa tidak pantas bersikap demikian,” kata Nuri.

“Apa yang tidak pantas? Aku laki-laki dan aku punya uang untuk berbuat semauku,” jawab Eko.

Kisah di atas menandakan sikap hidup yang tidak positif ketika mendapatkan banyak kekayaan. Harta yang melimpah, tanpa landasan iman yang kuat, justru membuahkan petaka. Ia merasa bisa melakukan apa pun untuk kesenangan dirinya dengan harta yang melimpah tersebut. Semua keinginan syahwatnya diperturutkan, selain memang ada pengaruh dari lingkungan kerja. Dampaknya negatif bagi diri dan keluarganya. Konflik mulai mendera kehidupan keluarga mereka, justru setelah mereka bergelimang dengan harta.

Dengan arogansi lantaran merasa menguasai harta, Eko justru bersikap menyakiti istrinya, “Aku laki-laki dan aku punya uang untuk berbuat semauku.”

Pada titik ini, Nuri pasti akan lebih memilih ”Eko yang dulu”, Eko yang tekun dan bekerja keras untuk mengembangkan usahanya. Uangnya tidak terlalu banyak waktu itu, namun justru keluarga mereka sangat bahagia. Eko menjadi suami yang sangat perhatian dengan isteri dan anak-anaknya. Namun kondisi itu hilang bahkan berbalik seratus delapan puluh derajat setelah usaha Eko semakin sukses dan semakin banyak mendatangkan keuntungan.

Membentuk Sikap Hidup Positif

Sesungguhnya yang paling penting adalah adanya sikap hidup yang positif pada diri suami dan isteri. Kebahagiaan lebih banyak ditentukan oleh sikap hidup yang positif, suami dan isteri yang selalu bersyukur atas setiap limpahan nikmat dan karunia Allah. Suami dan isteri yang selalu melewati hari-hari dalam kebersamaan sebagai sebuah keluarga, mereka saling terbuka, saling membantu, saling mengisi dan melengkapi. Semua persoalan kehidupan diselesaikan secara bersama, dan berjalan beriringan menggapai kehidupan yang sakinah, mawaddah dan rahmah.

Suami yang  diliputi oleh cinta tidak akan menyia-nyiakan harta untuk sesuatu yang tidak ada kemanfaatannya, apalagi sampai ke tingkat menggunakan harta untuk melakukan kegiatan yang dilarang agama maupun norma susila. Setiap uang yang didapatkan akan teralokasikan untuk kebaikan dan tidak teralokasikan untuk sesuatu yang menyimpang. Ia senantiasa berhati-hati agar tidak terjatuh ke dalam tindakan mubadzir, yaitu menyia-nyiakan harta untuk hal-hal yang di luar batas keperluan secara wajar. Apalagi sampai ke tingkat melakukan kemaksiatan dan kejahatan dengan uang yang dimilikinya.

Manajemen atau cara pengelolaan keuangan keluarga, sangat baik kalau dibicarakan secara terbuka antara suami dengan isteri. Apakah seluruh penghasilan suami diberikan kepada istri, sehingga pengelolaan harta rumah tangga sepenuhnya di tangan istri, atau suami memberikan uang belanja sesuai kebutuhan setiap bulannya, sedangkan sisanya dikelola suami untuk berbagai keperluan lain. Kesemuanya merupakan pilihan yang bisa disepakati bersama. Termasuk apabila isteri bekerja dan memiliki penghasilan sendiri. Keterbukaan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga sangat diperlukan demi kebaikan mereka semua.

Dengan sikap hidup yang positif, akan menyebabkan suami dan isteri bersikap secara tepat terhadap seluruh realitas kehidupan yang mereka hadapi. Baik ketika hidup sedang susah maupun ketika sedang mudah. Baik ketika sedang miskin maupun harta berlimpah. Semua kondisi mampu disikapi dengan tepat, sehingga berapapun kekayaan yang mereka miliki, akan memberikan kebahagiaan yang hakiki dalam keluarga, karena mampu bersyukur atas segala pemberianNya. Saat miskin mereka bersabar, saat kaya mereka bersyukur. Sikap seperti inilah yang selalu memberikan kebahagiaan dalam keluarga.

 

8 November 2013   08:18 Diperbarui: 24 Juni 2015   05:27

Image: money.id