MENGAPA PASANGAN SUAMI ISTRI SANGAT SERING MENELPON?

MENGAPA PASANGAN SUAMI ISTRI SANGAT SERING MENELPON?

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

 

Ada tipe suami yang sangat rajin menelpon istri. Ada tipe istri yang sangat rajin menelpon suami. Sebentar sebentar telpon, sebentar sebentar telpon; telpon kok cuma sebentar.... Ada apa ya, kok sangat sering menelpon? Saya kira motif dan kondisi mereka tidak sama. Masing-masing memiliki alasan dan kondisi tersendiri, yang tidak selalu sama dengan orang lainnya.

Mari kita mencoba menebak, mengapa ada suami yang sangat sering menelpon istri dan ada istri yang sangat sering menelpon suami. Ini hanya mencoba menjajagi kemungkinan-kemungkinan, plus data dari obrolan kecil yang kerap saya lakukan terhadap pasangan suami istri, baik di ruang konseling maupun di ruang pelatihan Wonderful Family.

Kemungkinan Alasan Positif

Mari kita lihat dari sisi yang positif terlebih dahulu. Mengapa suami atau istri sangat sering menelpon pasangannya.

1. Ekspresi cinta

Suami atau istri sering menelpon sebagai ekspresi cinta, kasih dan sayang terhadap pasangan. Sedemikian besar perasan cinta dan kasih sayang di antara sepasang kekasih, sehingga menelpon sekedar untuk mengatakan i love you. Tidak selalu karena ada hal yang urgen atau mendesak untuk disampaikan, namun beberapa menit tidak mengobrol dengan pasangan, rasanya ada hal yang kurang. Maka mereka sering-sering menelpon pasangan di setiap ada kesempatan.

2. Ungkapan rasa rindu

Suami atau istri sering menelpon sebagai ungkapan rasa rindu yang begitu menggebu. Menelpon bukan karena ada keperluan tertentu, namun untuk melepaskan rasa rindu. Baru berpisah sebentar saja untuk pergi ke tempat kerja, rasanya sudah kehilangan. Maka mereka saling menelpon, walau hanya sekedar mendengar suaranya sudah tenang dan senang. Rindu sudah bisa berkurang.

3. Kuatnya kebersamaan

Kebiasaan sering menelpon juga bisa menjadi pertanda kuatnya kebersamaan di antara suami dan istri. Tidak ingin ada hal yang memisahkan mereka berdua. Suami dan istri telah memiliki bonding yang sangat kuat. Mereka tidak ingin berpisah, selalu ingin bersama pasangan.

4. Rasa memiliki

Suami dan istri yang memiliki rasa memiliki sangat tinggi, selalu berusaha untuk menyambung dengan pasangan. Suami dan istri tak ingin kehilangan pasangan. Ketika tidak bisa segera bertemu karena ada keperluan, merasa tidak tenang. Maka mereka segera menelpon untuk memastikan bahwa pasangannya masih tetap menjadi miliknya. Apabila telpon segera diangkat pasangan, suami atau istri merasa tenang. Berarti ia masih milikku. Tapi kalau telpon tidak diangkat, mulai khawatir jangan-jangan sudah punya yang lain.

5. Rasa tanggung jawab

Suami dan istri saling memiliki rasa tanggung jawab terhadap pasangannya. Maka mereka sering menelpon untuk memastikan bahwa si dia baik-baik saja. Suami dan istri khawatir, jangan sampai ada hal yang tak diinginkan terjadi padanya. “Kamu baik-baik saja kan Sayang?” begitu pertanyaan mereka kepada pasangan.

6. Wujud perhatian

Pasangan suami istri sudah memiliki kebiasaan yang spontan. Ada wujud perhatian dan kepedulian terhadap pasangan yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, seperti bernafas dan berkedip. Mereka tak perlu berpikir lagi untuk menelpon pasangan. Ada hal-hal kecil dan sederhana pun selalu ingin diceritakan kepada pasangan. Sekedar menceritakan hal-hal rutin yang dilakukan, mereka merasa perlu untuk menelpon.

Kemungkinan Alasan Negatif

Sekarang mari kita lihat dari sisi kemungkinan alasan yang negatif. Mengapa suami atau istri sangat sering menelpon pasangannya.

1. Curiga kepada pasangan

Suami atau istri sering menelpon pasangan karena curiga terhadap pasangan. Mereka khawatir dengan perilaku pasangan yang tidak setia. Maka suami atau istri sering menelpon untuk bertanya, “Lagi dimana kamu sekarang?” Atau, “Lagi ngapain kamu sekarang?”

2. Tidak percaya

Ada pula suami atau istri yang sudah tidak percaya kepada pasangan, Mereka sering menelpon untuk menginterogasi, “Kamu sekarang lagi sama siapa?” Atau bahkan menebak-nebak asal saja, “Itu yang duduk deketmu, dia siapa?” Padahal saat menelpon tidak melihat pasangannya sedang berada dimana atau bersama siapa. Ini karena ekspresi rasa tidak percaya yang akut.

3. Posesif

Ada suami atau istri yang sangat posesif. Mereka selalu kepo dengan apa yang dialkukan pasangan. “Seharian aku lihat statusmu online terus. Emang kamu lagi chating sama siapa?” Pertanyaan seperti ini menandakan sifat posesif terhadap pasangan, ingin selalu tahu apa yang terjadi dan dilakukan bahkan dirasakan pasangan.

4. Menutupi jejak

Ada pula suami atau istri yang menelpon untuk menutup jejak. Karena dirinya sedang melakukan hal yang tidak benar, ia segera menelpon pasangan. Ia menelpon duluan agar tidak dicurigai dirinya sedang ngapain. “Dek kamu sedang ngapain?” Harapannya, sang istri akan merasa mendapat perhatian dari suami. Padahal ini telpon dengan modus menutupi jejak kejahatan.

5. Menipu pasangan

Ada pula suami atau istri yang menelpon untuk menipu pasangan. Misalnya seorang suami menelpon istri, "Hai sayang, aku meeting dulu ya.. bye..." Padahal sedang pacaran dengan selingkuhan. Atau seorang istri menelpon suami, “Bang aku belanja dulu ya”, padahal ternyata sedang bermesraan dengan lelaki idaman lain. Ini adalah modus penipuan yang nyata.

6. Mengecek

Ada pula suami atau istri yang menelpon untuk mengecek keberadaan pasangan, sedang berada dimana posisinya. Hal ini untuk memastikan kegiatan selingkuh yang dilakukan tidak akan ketangkap basah oleh pasangan. “Kamu pulang jam berapa nanti Bang?” Pertanyaan ini untuk mengukur jarak dan waktu, masih berapa lama kepulangan sang suami. Ada pula yang menelpon untuk mengecek kondisi istri, “Oh kamu masih hidup toh... kapan mati?”

Just kidding ya... Jangan marah. Semoga yang terjadi pada anda dan pasangan adalah semua motif positif. Semoga tidak ada pasangan suami istri yang saling menelpon untuk alasan dan motif yang negatif. Kalaupun ada, semoga segera insyaf dan bertaubat, kembali ke jalan yang benar.

 

 

Bandara Soekarno Hatta 7 Februari 2019