Mengapa Suami Jarang Memuji Isteri ?

Mengapa Suami Jarang Memuji Isteri ?

Kemarin siang, Selasa 13 Desember 2011 bertempat di Gedung PKK Kota Semarang, saya mengisi Kajian Siang tentang Pernikahan dan Keluarga. Saya menyampaikan beberapa tips menjaga kelanggengan pernikahan dan keharmonisan keluarga di hadapan sekitar duaratus peserta yang sangat beragam kondisinya. Ada yang masih lajang, ada yang sudah punya cucu.

 

Saat sesi dialog, seorang peserta laki-laki bertanya bagaimana cara membiasakan keterbukaan antara suami dan isteri. Menurutnya, dalam tradisi masyarakat kita, tidak lazim suami mengucapkan kata cinta kepada isterinya. Kareka kalau suami mengatakan, “I love you” kepada isteri, justru akan ditertawakan dan dikomentari isteri dengan ungkapan, “Ah, gombal”.

 

Maka pertanyaan berikutnya adalah, benarkah isteri memerlukan ungkapan cinta dari suami? Menurutnya, ketika suami mengucapkan kalimat “I love you” kepada isteri, itu akan menjatuhkan wibawa suami dan merendahkan martabat suami. Benarkah?

 

Perempuan Suka Ungkapan Verbal

 

Secara umum kaum perempuan menyukai ungkapan verbal, sedangkan kaum laki-laki kurang menyukai ungkapan verbal. Ini salah satunya terkait struktur otak laki-laki dan perempuan yang berbeda, juga terkait kecenderungan jiwa yang berbeda.

 

Misalnya dalam mengungkapkan cinta dan kasih sayang. Penting bagi para isteri untuk mendapatkan “kepastian” lewat lisan suaminya, bahwa memang sang suami mencintai dirinya. Ungkapan “I love you” dan yang semacam itu sangat bermakna bagi para isteri. Ungkapan, “Aku kangen banget” sangat menyenangkan pada telinga dan perasaan para isteri. Mereka merasa diperhatikan, dicintai, dirindukan dan dibutuhkan.

 

Perempuan merasa sangat tersanjung oleh kata-kata dan kalimat manis yang ditujukan kepada dirinya. Pujian sangat memberi makna bagi kaum perempuan. Kalimat pujian menunjukkan adanya perhatian yang mendalam; pada umumnya perempuan merasa dicintai apabila diperhatikan. Tatkala suami tidak pernah mengungkapkan kalimat pujian, maka isteri akan mudah merasa tidak diperhatikan. Dampaknya, ia merasa tidak dicintai.

 

Dalam pengertian yang negatif, jika lelaki ingin merayu perempuan untuk dijadikan pacar atau selingkuhan, dimulai dengan banyak memuji perempuan itu. Perempuan akan merasa terbang ke langit dan sangat tersanjung dengan pujian. Itulah sebabnya kaum perempuan harus berhati-hati terhadap pujian kaum lelaki, karena bisa membuat ia terperangkap dan terpedaya oleh pujian kaum lelaki. Seorang isteri tiba-tiba merasakan perasaan nyaman berada di dekat seorang lelaki teman se kantornya, hanya karena lelaki tersebut suka memujinya; sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh suam,inya di rumah.

 

Dalam pengertian yang positif, memuji isteri merupakan bagian dari cara para suami untuk menguatkan cinta dan kasih sayang di antara mereka. Beberapa contoh pujian yang sangat disukai kaum perempuan, seperti misalnya :

 

“Engkau cantik sekali”.

 

“Beruntung sekali aku memiliki isteri secantik dirimu”.

 

“Aku sangat bangga menjadi suamimu”.

 

“Luar biasa. Engkau tampak sangat anggun dengan pakaianmu ini”.

 

Sayangnya, kebanyakan kaum lelaki merasa sudah menunjukkan perhatian, cinta dan kasih sayang kepada isteri dengan jalan bekerja mencari nafkah. Ia keluar dari rumah menuju tempat bekerja, dari pagi hingga sore hari, bahkan kadang masih ditambah lembur. Semua gaji bahkan sampai slip gajinya diserahkan kepada isteri.

 

Dengan cara itu suami merasa telah menunjukkan perhatian, cinta dan kasih sayang kepada isteri dan anak-anaknya. Ia merasa tidak perlu lagi menyampaikan secara verbal, “Aku sungguh mencintaimu”, karena yang dilakukannya sudah menjadi bukti, bukan saja kata-kata.

 

Mengapa para suami enggan memuji isteri? Salah satunya, karena kecenderungan lelaki yang banyak menggunakan akal atau logika dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Dengan akalnya, ia merasa tidak penting mengucapkan kata-kata cinta, karena yang lebih penting adalah bukti nyata. Dengan bekerja, mencari nafkah, mencukupi kebutuhan hidup keluarga, suami merasa telah membuktikan cinta yang nyata kepada isteri dan anak-anak.

 

Padahal para isteri sangat ingin mendapatkan kata-kata mesra, pujian dan ungkapan cinta dari suami. Tidak cukup dengan pemberian materi dan penunaian kewajiban “formal” suami memberikan nafkah lahiriyah kepada isteri. Para isteri memerlukan sentuhan kelembutan, sentuhan perasaan, sentuhan kejiwaan, yang dengan itu mereka merasa yakin bahwa suaminya memang mencintai dan membutuhkannya.

 

Isteri sangat senang mendapat pengakuan dari suami atas kebaikannya. Dan itu perlu ditegaskan dalam bentuk kata-kata. “Terimakasih engkau telah menyiapkan sarapan. Terimakasih engkau telah membersihkan kamar tidur kita. Terimakasih engkau telah mengurus anak-anak kita”. Kalimat itu menunjukkan pengakuan verbal, dan akan sangat disenangi para isteri.

 

Artinya, Wajar Perempuan Sangat Cerewet

 

Karena rata-rata kaum perempuan suka ungkapan verbal, maka mereka terbiasa mengatakan apa saja yang dilihat dan dirasakannya. Rata-rata kaum lelaki memilih diam atau sedikit saja berkomentar ketika menyaksikan sesuatu di dalam rumahnya. Namun kaum perempuan dengan spontan memiliki banyak komentar atas apa yang dilihatnya di dalam rumah. Salah satu sebabnya, kecerdasan linguistik perempuan rata-rata lebih tinggi dibanding laki-laki. Kosa kata kaum perempuan lebih banyak daripada laki-laki.

 

Lihatlah bagaimana para ibu menggendong bayinya. Saat menggendong bayi yang masih kecil ke luar rumah, agar mendapatkan udara segar serta mendapatkan sentuhan sinar matahari pagi yang menyehatkan, para ibu tidak hanya diam. Ada sangat banyak kalimat diucapkan, ada banya cerita diungkapkan, padahal sang bayi jelas belum mengerti omongan sang ibu. Berbeda dengan para bapak saat menggendong bayi. Ia hanya menggendong sambil diam saja, tidak ada suara sama sekali.

 

Ternyata, inilah cara Tuhan mengajari anak kita berbicara. Anak bisa bicara dari suara-suara yang didengarnya setiap saat. Maka ia akan langsung mencerap dan menirukan apapun yang sering masuk ke telinganya. Jika suami dan isteri sama-sama pendiam, tidak banyak bicara, maka akan sangat sedikit kosa kata yang didengarkan si anak. Ia akan lebih lambat berbicara, karena kurang banyak mendengar perkataan.

 

Jadi, jangan dimarahi isteri anda yang sangat cerewet dan banyak bicara. Karena dengan cara itu anak-anak anda belajar kosa kata dan berkomunikasi.

 

Jangan Pelit Memuji Isteri

 

Maka mulai sekarang biasakan memuji isteri anda. Jangan sampai isteri anda terbuai oleh pujian lelaki lain, sementara anda tidak pernah memuji dirinya. Yakinlah isteri anda akan sangat senang dengan pujian anda, dan sangat senang dengan ekspresi verbal atas kebaikan yang telah ia lakukan untuk anda dan keluarga.

 

Tidak sulit, hanya memerlukan pembiasaan dan kemauan. Jika anda mau melakukan, biasakan mengucapkan kata-kata sederhana setiap hari kepada isteri. Ya, sederhana saja, seperti :

 

“Engkau kelihatan segar sekali pagi ini”.

 

“Tentu engkau sangat lelah telah menyiapkan sarapan pagi ini, tapi engkau tetap tampak ceria. Apa sih rahasianya?”

 

“Aku senang sekali melihat engkau pandai mendidik anak-anak kita”.

 

“Terimakasih, telah membuatkan teh untukku yang sangat enak”.

 

Cobalah memuji isteri anda setiap hari, dan lihat apa dampaknya. Selamat membiasakan mengungkapkan kemesraan dan pujian secara verbal kepada isteri. Anda layak menjadi suami juara.

 

14 Desember 2011   04:30 Diperbarui: 25 Juni 2015   22:19

Image: idntimes.com