Menuju Bersatunya Cinta, Dalam Bingkai RidhaNya

Menuju Bersatunya Cinta, Dalam Bingkai RidhaNya

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

*Bahan bacaan untuk para peserta Seminar Pranikah “Menuju Bersatunya Cinta Menggapai Berkah”, Ahad 19 Mei 2019 di Masjid Ukhuwah Islamiyah Kampus UI Depok.

 

Di antara diskusi menarik tentang jodoh adalah, berbagai pertanyaan besar bagi lelaki dan perempuan lajang, saat mereka mulai berproses menuju pernikahan, apakah ia memang jodohku? Dari mana aku tahu bahwa ia memang jodohku? Apakah aku tidak salah pilih? Apa tanda bahwa memang ia jodohku? Demikianlah berbagai pertanyaan muncul silih berganti, kadang membuat hati ragu, maju munndur untuk memutuskan menikah dengan si dia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), jodoh adalah (1) orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan; (2) sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan (3) cocok, tepat. Dari pengertian itu, jodoh dimaknai sebagai seseorang yang menjadi pasangan hidup –suami atau istri-- bagi orang lainnya, dengan kondisi kecocokan, ketepatan dan keseimbangan.

Ketika si A dan si B sudah merasakan kedekatan hubungan, atau menemukan kecocokan, kemudian mereka meneruskan hubungan itu ke jenjang pernikahan, hingga berhasil menikah dan menjadi keluarga sakinah, maka itulah yang disebut sebagai jodoh.

Apakah Saya Tahu Siapa Jodoh untuk Saya?

Ada empat hal yang telah Allah tetapkan pada diri setiap manusia sejak sebelum kelahirannya. Penetapan ini terjadi saat anin berumur 120 hari dalam perut ibu, sebagaimana sabda Nabi Saw:

“Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan diperintahkan untuk ditetapkan empat perkara, yaitu rezekinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya”. HR. Bukhari, no. 6594 dan Muslim, no. 2643.

Namun, ketika mengetahui bahwa rejeki sudah ditetapkan sejak manusia belum lahir, apakah kita tidak perlu bekerja dan berusaha? Tentu saja tidak demikian. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:

”Janganlah anda mengatakan ‘rejeki telah tertulis dan terbatasi maka aku tidak akan melakukan sebab-sebab untuk mencapainya’. Karena pernyataan tersebut adalah suatu kelemahan. Sedangkan yang disebut kecerdasan adalah kamu tetap berupaya mencari reeki dan sesuatu yang bermanfaat bagimu, baik untuk agamamu maupun untuk duniamu. Nabi Saw bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang cerdas adalah mereka yang menguasai dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati, sedangkan orang lemah adalah mereka yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah Ta’ala”.

Sebagaimana rejeki telah tertulis dan ditakdirkan bersama sebab-sebabnya, maka jodoh juga telah tertulis ---beserta sebab-sebabnya. Masing-masing dari suami dan istri telah tertulis untuk menjadi jodoh bagi yang lain. Bagi Allah tidak rahasia lagi segala sesuatu, baik yang ada di bumi maupun di langit”, demikian penjelasan Syaikh Utsaimin.

Jadi, adakah orang yang tahu, siapa jodohnya? Tidak seorang pun yang tahu siapa jodohnya, sebelum menikah. Dengan cara apapun orang ingin mengetahui dan memastikan siapa jodohnya, tidak bakal ada yang bisa mengetahuinya. Kecuali setelah menikah. Begitu akad nikah sudah terlaksana, maka pengantin laki-laki dan pengantin perempuan harus segera menyatakan, dialah jodohku yang telah Allah berikan kepadaku. Dari mana bisa tahu? Karena sudah terjadi akad nikah.

Allah tidak memberi tahu kepada kita sebelum kejadian. Seperti halnya soal rejeki, Allah tidak memberi tahu kepada kita saat bangun pagi hari, bahwa rejeki kamu hari ini adalah satu juta rupiah. Namun kita diwajibkan bekerja dan berusaha dengan cara yang halal untuk mencari rejeki. Setelah berusaha, bekerja disertai doa dan tawakal, pada malam hari sebelum tidur kita menghitung penghasilan seharian, ternyara satu juta rupiah. Maka itulah rejeki kita hari ini. Berapa besar rejeki kita sudah ditentukan, tertulis dalam lauh mahfuzh. Namun kita tidak diberi tahu sebelum kejadian. Setelah kejadian, barulah kita tahu, bahwa yang tertulis di lauh mahfuzh rejeki kita sebesar apa.

Jodoh kita sudah Allah ketahui sejak sebelum kita lahir. Namun Allah tidak memberi tahu kepada kita siapa jodoh untuk kita. Maka kewajiban kita adalah berusaha mencari  dan menemukan jodoh terbaik sesuai aturan agama. Setelah semua usaha kita lalui untuk mendapatkan calon jodoh, hingga akhirnya berhasil melaksanakan akad nikah, maka kita baru tahu siapa jodoh yang telah Allah tetapkan untuk kita, yang sudah tertulis di lauh mahfuzh.

Maka bagi pengantin yang sudah melaksanakan akad nikah, tidak ada ruang lagi untuk merasa ragu dan mempertanyakan, apakah ia jodohku? Itu pertanyaan sebelum menikah. Setelah menikah, yang ada adalah sebuah kemantapan dan keyakinan sepenuh hati : ia adalah jodohku. Kemudian melakukan usaha untuk membangun kehidupan keluarga yang sakinah mawadah warahmah bersama pasangan halal yang telah Allah tetapkan baginya.

Apa Tanda Berjodoh?

Kalau memang tidak ada orang mengetahui siapa jodohnya, adakah tanda yang bisa menjadi rujukan bahwa seorang lelaki dan perempuan memang berjodoh? Untuk menjawab hal ini, harus selalu berada dalam pondasi syari’at, bahwa interaksi lelaki dan perempuan yang belum terikat pernikahan itu memiliki banyak batasan. Maka tidak bisa melakukan berbagai cara dan langkah untuk mendapatkan kecocokan, yang melanggar aturan agama. Misalnya dengan mencoba semuanya, menikmati semua bagian tubuhnya, agar mengetahui apakah jodoh atau tidak. Hal seperti itu terlarang dalam agama.

Tidak ada keterangan tentang tanda-tanda berjodoh dalam nash-nash, maka yang bisa kita lakukan hanyalah upaya meraba takdirNya. Sungguh kita tidak tahu, namun kita perlu membantu para lajang yang tengah berproses “mempertemukan cinta menuju ridha-Nya”, agar tidak kebingungan dalam memilih dan mengambil keputusan tentang calon pendamping hidup.

Berikut beberapa tanda yang bisa dijadikan tolok ukur, yang keseluruhannya bersifat kualitatif. Tidak bisa dikuantifikasi, karena ini bukan persoalan matematika. Berikut beberapa tanda, bahwa kemungkinan anda berjodoh dengan si dia. Sekali lagi, ini hanya upaya meraba takdirNya.

Pertama, Kesamaan Visi dan Motivasi

Sebelum menikah, lelaki dan perempuan lajang melakukan proses ta’aruf untuk mendialogkan, mengetahui dan mempertemukan banyak hal. Diantaranya adalah terkait dengan motivasi dan visi kehidupan. Lelaki dan perempuan yang berproses menikah, mereka menyampaikan hal-hal fundamental dalam kehidupan, seperti pemahaman agama, visi berkeluarga, motivasi menikah, rencana ke depan dalam membangun keluarga sakinah, pemikiran tentang pembagian peran kerumahtanggaan, tentang pendidikan anak, dan lain sebagainya.

Jika dalam ta’aruf merasa memiliki kesamaan dalam visi dan motivasi, maka ini merupakan bagian dari tanda berjodoh. Mereka merasa telah menemukan kesamaan dalam hal-hal yang fundamental yang bisa membuat mereka bisa mengarungi kehidupan dengan kesamaan visi serta motivasi. Bersama-sama meniatkan proses ta’aruf sebagai bagian dari ibadah, melandasi semua langkah menuju nikah dengan motivasi ibadah, dan menjadikan pernikahan sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah dan RasulNya.

Pernikahan bukan saja keinginan dua insan, laki-laki dan perempuan, namun bagian dari proses pembangunan peradaban. Hendaknya calon suami dan calon istri membangun bersama visi, cita-cita, mimpi, harapan, keinginan yang akan diwujudkan dalam kehidupan pernikahan.  Dengan menemukan kesamaan dalam visi dan motivasi kehidupan, sudah menjadi bagian dari tanda kecocokan dalam perjodohan. Namun jika dalam proses ta’aruf menemukan banyak perbedaan sampai dalam hal-hal yang prinsip dan mendasar, maka sepertinya tidak berjodoh.

Maka pastikan hal-hal yang fundamental sudah berada dalam kesamaan. Misalnya, tentang agama, aqidah, akhlak, ibadah, ini adalah hal sangat prinsip. Jika anda ta’aruf dengan seseorang yang tidak peduli agama, masih melakukan hal-hal syirik, tidak melaksanakan ibadah wajib, tidak menetapi akhlak mulia, ini merupakan persoalan besar dalam kehidupan nantinya. Namun jika dia menunjukkan kesediaan untuk memperbaiki diri, mau melakukan taubat nasuha atas dosa-dosa besar, bersedia untuk mentaati ajaran agama, meninggalkan maksiat dan dosa, maka melalui pernikahan dengan anda semoga ia semakin terkuatkan keimanan dan keislamannya.

Kedua, Munculnya ‘Klik’ Perasaan

Tanda kedua adalah munculnya ‘klik’ perasaan. Merasa nyambung, merasa cocok, merasa nyaman. Jika selama masa ta’aruf muncul perasaan ketersambungan hati dan pemikiran, maka ini merupakan tanda bahwa mereka berdua memang berjodoh. Saya menyebut dengan istilah ‘klik’, karena tidak menemukan istilah lain yang lebih tepat. Hal ini untuk menghindarkan dari suasana jatuh cinta yang terjadi pada sepasang kekasih sebelum menikah. Tanda jodoh itu bukan jatuh cinta, tapi suasana ‘klik’ atau ada ‘rasa’, atau merasakan ketersambungan pikiran dan perasaan.

Maka ketika ada lelaki dan perempuan lajang sedang berproses menuju pernikahan, tidak perlu menunggu sampai merasakan cinta atau jatuh cinta. Mungkin saja anda saat menikah belum ada rasa cinta, namun sudah merasakan ada kecocokan tertentu, ada ‘klik’, ada ketersambungan batin yang membuat anda sudah bisa memutuskan untuk meneruskan proses lanjut ke jenjang pernikahan dengan si dia. Tidak ada keharusan atau persyaratan bahwa menikah itu harus dengan perasaan cinta, bahkan jatuh cinta sebelum menikah justru bisa membawa kepada perbuatan dosa yang tampak maupun dosa yang tersembunyi. Jaga hati dan perasaan, jangan terkotori dengan syahwat saat memutuskan menikah.

Munculnya ‘klik’ perasaan ini pun bukan keharusan, bukan persyaratan. Saya hanya menyebut ini sebagai tanda-tanda yang bisa dimengerti keberadaannya. Saya bertemu dengan pasangan suami istri yang hidup bahagia, padahal pada saat proses menikah mereka tidak saling kenal, belum pernah berjumpa, belum pernah berkomunikasi dengan sarana dan media apapun. Mereka berdua hanyalah hamba-hamba Allah yang tulus, dan percaya bahwa pernikahan itu yang paling penting adalah kesamaan dari sisi visi dan motivasi.

Setelah mendapat informasi mengenai calon dari orang yang dipercaya, bahwa ia seorang yang baik agamanya, baik akhlaknya, taat ibadah, menjaga diri dari pergaulan yang tidak dibenarkan agama, maka keduanya langsung bersepakat untuk menikah. Bahkan tanpa ta’aruf langsung. Tukar foto saja tidak. Namun nyatanya bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah.

Ketiga, Merasakan Kemantapan Hati

Tanda berikutnya adalah adanya kemantapan hati yang muncul dalam sepanjang proses ta’aruf. Bukan soal berapa lama melakukan ta’aruf, namun yang lebih penting adalah munculnya perasaan mantap untuk menikah dengan si dia. Bagi mereka yang terlanjur jatuh cinta, tidak akan mengerti suasana kemantapan ini, karena sudah terbalut dan terinfeksi oleh perasaan menggebu. Mereka yang jatuh cinta akan mengatakan, bahwa si dia adalah the only one, hanya dia yang cocok untuk aku. Hanya dia yang membuat aku mantap. Ini suasana yang membuat tidak lagi bisa berpikir secara jernih.

Semestinya, kemantapan ini dirasakan dan didapatkan pada situasi tidak ada jatuh cinta. Dengan demikian akan lebih obyektif kondisinya. Bisa mengenali munculnya perasaan kemantapan, karena tidak tertipu dan terkotori oleh dominasi suasana jatuh cinta. Perasaan ini hadir dan menyelinap dalam hati, seiring dengan proses ta’aruf yang sedang terjadi. Mungkin karena melihat kesungguhannya, mungkin karena mengetahui latar belakang dan kebaikannya, mungkin karena merasakan ketulusan dan kedewasaannya, dan lain sebagainya. Inilah rahasia jodoh, sebagaimana pula memahami rahasia kemantapan hati.

Munculnya rasa kemantapan hati ini tidak bisa diteorikan dengan detail, sebab apa sepasang calon pengantin bisa menjadi mantap. Masing-masing orang memiliki alasan yang bisa saja berbeda, mengapa ia menjadi mantap untuk meneruskan proses menuju jenjang pernikahan dengan si dia. Bimbingan melalui istikharah akan menjadi penyempurna upaya pemantapan hati, agar munculnya kemantapan adalah karena intervensi Allah. Bukan karena hawa nafsu dan syahwat. 

Keempat, Sudah Tidak Ada Keraguan

Kadang, usai proses ta’aruf merasakan ada kemantapan hati. Namun beberapa waktu berselang, merasakan ada keraguan muncul. Ada informasi yang didengar atau didapatkan, lalu membuat merasa ragu, bahkan berbalik menjadi mantap untuk mengakhiri proses. Berpikir untuk tidak jadi melanjutkan hubungan ke pernikahan. Bisa jadi ini adalah sebuah tanda bahwa belum berjodoh. Namun jangan cepat-cepat memutuskan atau membuat kesimpulan seperti itu, sebab masih ada usaha untuk melakukan klarifikasi atas hal yang membuat ragu-ragu.

Ta’aruf bisa dilanjutkan dan diteruskan kembali untuk mendapatkan informasi secara langsung dari yang bersangkutan. Lakukan klarifikasi, sebab bisa jadi informasi yang anda terima tidak sepenuhnya sesuai fakta. Mungkin sudah ada bias persepsi, bahkan bercampur opini dan analisa subyektif dari pembawa berita. Nah, sebaiknya tidak cepat-cepat memutus secara sepihak. Ambil kesempatan untuk melakukan klarifikasi dalam sesi-sesi ta’aruf berikutnya. Sampai hal yang meragukan bisa terklarifikasi, apakah memang benar atau hoax, beserta penjelasannya.

Dari seluruh pengenalan yang anda miliki tentang si dia, dari interaksi dan komunikasi selama masa ta’aruf, dari informasi dari berbagai sumber yang terpercaya, anda akan lebih bisa menimbang, apakah akan lanjut dengan si dia ataukah masih ragu. Coba bayangkan hal-hal yang menakutkan dan mengerikan tentang kehidupan berumah tangga, lalu komunikasikan dengan si dia saat ta’aruf. Misalnya, “Apakah kamu pernah marah? Jika kamu marah, seperti apa bentuk kemarahan kamu? Seberapa sering kamu marah? Pernahkah kamu melakukan kekerasan fisik saat marah?”

Bisa jadi anda tetap merasakan keraguan dan tidak segera ada jawaban yang membuat anda merasa tenang. Bahkan sudah berkali-kali melakukan shalat istikharah selama proses ta’aruf, namun anda tetap merasakan keraguan. Anda tetap ragu apakah dia jodohku? Apakah dia orang yang tepat untuk menjadi pasangan hidupku? Jika keraguan terus menerus menghantui anda, artinya anda tidak bisa untuk meneruskan ke jenjang pernikahan. Kaidahnya, “tinggalkan hal yang meragukan kamu, untuk menuju kondisi yang tidak meragukanmu”. Memutuskan untuk menikah dengan seseorang harus sampai ke tahap yakin dan tanpa keraguan. Saat anda merasa sudah tidak ada keraguan untuk menikah dengannya, maka insyaallah itu adalah tanda berjodoh dengannya.

Itulah beberapa tanda untuk menjawab pertanyaan, apakah ia memang jodoh bagiku. Tidak ada tanda-tanda pasti, semua hanya dugaan. Kita baru tahu dengan pasti setelah kejadian, yaitu akad nikah. Semoga Allah bimbing anda menemukan jodoh yang tepat bagi anda, yang akan bersama-sama dengan anda menggapai surga dunia dan surga akhirat. Aamiin.

 

 

Daftar Pustaka

Abu Al-Hamd Rabi’, Membumikan Harapan Rumah Tangga Islam Idaman, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2010.

Ali Ahmad Utsman, Dasar-dasar Pernikahan dalam Islam, Media Insani Press, Solo, 2002

Cahyadi Takariawan, Wonderful Journeys for A Marriage, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2016

Cahyadi Takariawan, Wonderful Marriage, Era Adicitra Intermedia, Solo, 2017

Muhammad Thalib, Tuntunan dan Keutamaan Pernikahan dalam Islam, Irsyad Baitus Salam, Bandung, 2001.

Sayid Sabiq, Fiqih Sunnah, PT Al I’tishom, Jakarta, 2010

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Al Qadha’ wal Qadar : Tanya Jawab Tentang Qadha dan Qadar, Pustaka At Tibyan

Tim IICWCl, Tatanan Berkeluarga dalam Islam, LK3I, Jakarta, 2011