8 Keajaiban yang Dihasilkan Melalui Tulisan

8 Keajaiban yang Dihasilkan Melalui Tulisan

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

Apakah yang bisa kita hasilkan lewat sebuah tulisan? Tentu saja ada sangat banyak hal yang bisa kita hadirkan melalui tulisan, baik itu berupa value, maupun berbentuk materi. Saya mencatat paling tidak ada delapan keajaiban yang bisa dihasilkan melalui tulisan.

1. Tulisan adalah Kebaikan yang Abadi

Berapa umur manusia rata-rata saat ini? Mungkin 70 tahun. Ada yang lebih dari itu, ada yang kurang dari itu. Jika kita mengandalkan amal yang langsung kita kerjakan dalam kehidupan sehari-hari, maka hitungannya menjadi sangat terbatas. Namun Allah menyediakan lahan amal yang nilainya tidak terputus, memiliki kebaikan yang abadi.

Apabila ada pembaca yang tergerak untuk melakukan kebaikan dari tulisan anda, maka itulah amal jariyah yang bernilai abadi. Semakin banyak pembaca yang termotivasi untuk melakukan kebaikan kerena tulisan anda, akan semakin banyak pula pahala jariyah dari tulisan anda.

Dari Abu Hurairah Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau doa anak yang salih”. Hadits Riwayat Muslim no. 1631.

Maka tulislah ilmu yang bermanfaat, tulislah kebaikan, tulislah kebenaran,  tulislah cinta dan kasih sayang. Karena kita hanya akan menuai apa yang kita tuliskan. Jika yang anda tuliskan adalah ilmu yang memotivasi manusia untuk melakukan kebaikan, dan ada pembaca yang tergerak hatinya sehingga melakukan kebaikan sesuai ajaran Islam, maka pahala amal orang tersebut juga akan diberikan kepada anda, tanpa mengurangi pahala dia sedikitpun. Nabi Saw bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa memberi petunjuk pada kebaikan, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengikuti ajakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun juga.” Hadits Riwayat Muslim no. 2674.

Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari Ra, ia berkata bahwa Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.” Hadits Riwayat Muslim no. 1893.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَىْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِى الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kebaikan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya ganjaran semisal ganjaran orang yang mengikutinya dan sedikitpun tidak akan mengurangi ganjaran yang mereka peroleh. Sebaliknya, barangsiapa menjadi pelopor suatu amalan kejelekan lalu diamalkan oleh orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa semisal dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosanya sedikit pun.” Hadits Riwayat Muslim no. 1017.

Sampai kita meninggal dunia, tulisan kita tetap beredar dan dibaca banyak orang, dan ada orang yang mendapat hidayah serta kebaikan dari tulisan kita, maka pahalanya akan terus mengalir. Ini juga berlaku sebaliknya. Jika ada orang mengajak manusia menuju keburukan, kemaksiatan, kesyirikan, kejahatan, penyimpangan, dan ada pembaca yang mengikuti ajakannya, maka dosa mereka yang mengikuti juga ditambahkan kepada yang mengajak.

Maka berhati-hatilah dalam menulis. Pastikan anda hanya menulis kebenaran dan kebaikan, agar tulisan bernilai kebaikan yang abadi.

2. Tulisan adalah Ibadah

Sebagai insan beriman, jangan sampai kita melepaskan diri dari motivasi ibadah dalam seluruh aktivitas kehidupan kita. Islam telah mengajarkan hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia, agar seluruh rangkaian kehidupan berada dalam koridor ibadah kepada Allah, sebagaimana misi kehadiran manusia di muka bumi. Allah telah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Adz Dzariyat: 56.

Oleh karena itu, hendaknya kita selalu mengulang-ulang dan menghayati janji dalam menjalani kehidupan ini :

“Katakanlah sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam” (QS. Al An’am : 162).

Ibadah adalah ‘sambungan’ manusia kepada Tuhannya. Jika manusia tidak pernah beribadah, maka dirinya tidak pernah ‘nyambung’ kepada Allah. Ada dua jenis ibadah ---agar kita selalu bisa nyambung kepada Allah duapuluh empat jam sehari semalam. Yang pertama adalah ibadah mahdhah, dan kedua adalah ibadah ghairu mahdhah. Menulis adalah ibadah ghairu mahdhah, dimana aktivitas menulis yang kita lakukan dengan niat ibadah dan memiliki muatan yang sesuai dengan ajaran Islam, maka akan bernilai ibadah di hadapanNya.

Menulis adalah aktivitas ibadah yang membuat kita mendapatkan sangat banyak kemanfaatan darinya. Selain mendapatkan pahala dari Allah atas aktivitas menulis, kita masih mendapatkan pahala dari orang-orang yang mendapatkan pencerahan dari tulisan kita, sebagaimana telah saya sampaikan dalam poin sebelumnya. Maka niatkan menulis untuk ibadah kepada Allah. Ikhlas dalam menulis, hanya karena Allah. Ini akan membuat tulisan kita lebih berisi.

3. Tulisan adalah Dakwah

Dakwah adalah aktivitas mengajak manusia menuju jalan Allah. Bisa dilakukan dengan perkataan, tulisan, perbuatan maupun program dalam berbagai bentuknya. Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk mengajak manusia menuju jalan Allah dengan cara yang hikmah dan pelajaran yang baik, sebagaimana firmanNya:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl: 125)

Nabi Saw memerintahkan kepada ummat beliau untuk menyampaikan ajaran beliau, walau hanya satu ayat. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, Rasulullah Saw bersabda:

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat”. Hadits Riwayat Bukhari no. 3461.

Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan, “Yang dimaksud dengan hadits ini adalah : sampaikan kalimat yang bermanfaat, bisa jadi dari ayat Al Qur’an atau hadits”.

Bahkan dakwah dinyatakan oleh Allah Ta’ala sebagai sebuah jalan, yang dilalui oleh Nabi Saw dan orang-orang yang mengikuti beliau hingga akhir zaman. Firman Allah Ta’ala:

“Katakanlah: “Inilah jalanku (agamaku). Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata (ilmu dan keyakinan). Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf : 108).

Jika anda menulis untuk mengajak kepada kebaikan, mengajak menuju iman, mengajak berislam, mengajak bertaqwa, menuntun kepada kebenaran, menuntun kepada jalan Allah, membimbing manusia mengikuti sunnah, mala inilah tulisan dakwah. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan, dakwah adalah sebaik-baik perkataan, sebagaimana firmanNya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33).

Jika para ustadz dan ustadzah, para muballigh dan muballighah, bisa melakukan dakwah melalui mimbar-mimbar, dengan jumlah jama’ah melimpah ruah, maka para penulis bisa membuat tulisan dakwah yang dibaca oleh jutaan orang. “Para jama’ah” yang membaca tulisan dakwah tersebut tidak berkumpul di sebuah tempat, bahkan mereka tersebar di berbagai penjuru dunia. Tulisan bisa mengatasi jarak dan waktu.

Luqman menasehati anaknya:

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الأمُورِ

“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS. Luqman: 17).

Pada konteks sekarang, ayat itu seakan memberi tahu kita hal-hal berikut : hendaknya kita mengajak manusia melakukan hal yang baik dan mengajak manusia meninggalkan hal yang mungkar ---melalui tulisan, dan hendaknya bersabar atas bullying para haters yang akan selalu kita jumpai di dunia maya.

4. Tulisan adalah Identitas

Salah satu hal yang ajaib dari tulisan adalah, ia bisa memberikan identitas kepada penulisnya. Tulisan adalah jati diri penulisnya. Tulisan menunjukkan siapa diri kita. Benarkah? Mari saya tunjukkan beberapa bagian berikut ini.

Pertama, Tulisan Menunjukkan Keberpihakan

Saya masih ingat peristiwa demonstrasi mahasiswa yang sangat sering terjadi di berbagai kota menjelang runtuhnya orde baru. Ketika kita membaca koran atau majalah yang memberitakan demonstrasi, akan segera tampak keberpihakan koran dan majalah tersebut. Saya ambil dua contoh gaya penulisan berita, dan rasakan keberpihakannya.

“Demonstrasi mahasiswa terjadi lagi di Yogyakarta. Massa yang hanya belasan orang itu tampak beringas menampakkan yel-yel anti Orde Baru. Mereka menerjang barikade pengamanan dan merusak berbagai fasilitas umum. Petugas keamanan tampak berjaga-jaga dengan tertib. Terlihat beberapa aparat keamanan terkena lemparan batu dari demonstran. Sementara itu aparat tetap siaga tanpa melakukan perlawanan”.

“Demonstrasi mahasiswa terjadi lagi di Yogyakarta. Massa yang berjumlah ribuan orang itu bergerak dengan tertib. Mereka berjalan di sepanjang Malioboro, dan disambut antusias oleh warga. Petugas keamanan tampak beringas menghalau para demonstan. Terlihat beberapa orang mahasiswa terkena semprotan gas airmata yan dilontarkan petugas. Bahkan beberapa demonstran ditangkap aparat tanpa melakukan perlawanan”.

Nah, dengan mudah anda merasakan keberpihakan yang berbeda dari dua tulisan di atas. Para wartawan ‘dipaksa’ menulis opini, bukan berita. Maka muncullah tulisan yang menggambarkan identitas media. Demikian pula pada televisi dan media lainnya.

Contoh berikutnya. Misalnya, anda diminta menulis ulasan tentang Aksi 212 pada beberapa tahun lalu di Monas. Dari tulisan anda akan bisa diketahui identitas diri anda. Dari analisa anda akan diketahui keberpihakan anda. Jelas ya... Tulisan akan membuat identitas diri kita mudah diketahui oleh publik, tanpa bisa kita sembunyikan. Walaupun menulis dengan pola ‘safety player’, itu pun adalah identitas.

Kedua, Tulisan Memberikan Pengenalan

Darimana orang mengetahui bahwa Afandi adalah pelukis? Dari karya lukisannya. Darimana masyarakat mengetahui bahwa Amri Yahya adalah kaligrafer? Dari karya kaligrafi yang beliau hasilkan. Darimana orang mengetahui bahwa Asma Nadia adalah novelis? Dari karya novel beliau yang melimpah. Demikianlah, tulisan akan memberikan pengenalan. Mungkin RA. Kartini tak akan pernah dikenal orang apabila beliau tidak pernah menulis surat kepada sahabat-sahabat di Belanda itu.

Maka, semakin banyak anda menulis, identitas diri anda sebagai ‘penulis’ semakin nyata. Semakin banyak buku anda, identitas diri anda sebagai penulis buku semakin jelas. Inilah pengenalan yang bisa diketahui oleh publik tentang diri anda, bahwa anda adalah penulis. Apalagi ketka jenis tulisan anda spesifik, pengenalan yang diberikan juga semakin spesifik. Misalnya: Sapardi Djoko Damono adalah seorang penulis puisi; Tere Liye adalah seorang penulis novel; Emha Ainun Nadjib adalah penulis sosial budaya; Dewi Lestari adalah penulis supernova, dan lain sebagainya.

Mereka yang saya sebut namanya ini berada pada level terkenal alias populer. Sangat banyak orang menjadi terkenal di seluruh dunia karena menulis. Ada yang terkenal secara nasional, karena menulis. Ada pula yang terkenal secara lokal, dari tulisan yang dihasilkan. Menulis membuat beberapa orang menjadi populer dan dikenal luas oleh publik. Mereka sudah menjadi selebritis pada bidang penulisan.

Saya bukan orang terkenal. Namun saya mendapatkan banyak kemanfaatan dari tulisan, berupa “dikenal”. Nah, di sisi ini saya bisa meraskan kemanfaatan praktis dari menulis. Karena dengan menyebut diri saya sebagai penulis, dibuktikan dengan banyaknya tulisan saya di web Kompasiana, web Ruang Keluarga, web Pak Cah, dan buku-buku, maka saya mendapat pengenalan publik sebagai seorang penulis bertema pernikahan dan keluarga. Ini yang saya maksud sebagai “dikenal”, dan bukan terkenal.

Lalu apa keuntungan dengan dikenal sebagai penulis? Hmmmm..... Paling tidak, saya tidak dianggap sebagai pengangguran. Kalau di forum, bisa dikenalkan “Beliau adalah penulis buku”, nah keren kan... Gak enak kan kalau disebut pengangguran. Walaupun sebagian orang bilang, “nganggur iku nek ditelateni hasile yo lumayan”, hehehe.....

5. Tulisan Menciptakan Persahabatan dan Persaudaraan

Ya Allah, betapa bahagia hati saya bertemu sahabat dan saudara di berbagai tempat yang saya kunjungi. Saya belum mengenal mereka sebelumnya, mereka belum ketemu saya sebelumnya, namun melalui tulisan mereka mengenal diri saya. Maka saat bertemu di sebuah acara, rasanya sudah menjadi sebegitu akrab, karena langsung nyambung. Kita memiliki sangat banyak sahabat baru, saudara baru, yang membuat kita tidak pernah merasa sendirian dimanapun kita berada.

Inilah salah satu keajaiban tulisan. Ternyata tulisan menciptakan persahabatan, tulisan menciptakan persaudaraan, tulisan menciptakan jaringan, tulisan menciptakan solidaritas. Kita saling terhubung melalui tulisan, dan internet telah membuat semua menjadi lebih dekat. Persahabatan dan persaudaraan kita terjalin tanpa batas wilayah dan tanpa batas suku bangsa dan negara. Kita bisa menciptakan bangunan persaudaraan dan persahabatan lintas negara melalui tulisan.

6. Tulisan Mengajak Anda Keliling Dunia

Semakin banyak karya tulis anda yang diminati publik, memungkinkan anda untuk diundang ke berbagai daerah, dalam dan luar negeri. Mereka ingin mendengar langsung dari penulisnya, maka digelarlah berbagai forum sejak dari bedah buku, seminar, workshop, dan lain sebagainya. Maka anda berkesempatan untuk mengunjungi semua wilayah di Indonesia dan berbagai negara di dunia.

Demikianlah Asma Nadia berkeliling dunia. Demikianlah Salim A. Fillah berkeliling dunia. Tulisan membuat mereka bisa mengunjungi banyak negara. Tulisan membuat mereka mengenal banyak suku bangsa, banyak keajaiban dunia, banyak budaya. Mereka diundang, menjadi tamu di berbagai negara, tanpa harus mengeluarkan biaya untuk mengunjungi berbagai belahan dunia. Subhanallah, tulisan memang ajaib.

7. Tulisan Melahirkan Energi

Tulisan membuat kita memiliki energi untuk maju, untuk produktif, untuk lebih baik. Rata-rata penulis tidak pernah puas dengan kualitas tulisan mereka. Hal ini membuat mereka terus belajar, banyak membaca, banyak berdiskusi, banyak mengkaji, dan akhirnya mendapatkan berbagai sisi perbaikan dan peningkatan. Tulisan membuat kita bersemangat untuk terus melahirkan karya yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Semakin banyak tulisan yang anda hasilkan, semakin besar pula energi yang anda ciptakan. Upaya memperbaiki kualitas tulisan, adalah dengan banyak membaca. Semakin banyak membaca, akan semakin banyak pula ilmu kita dapatkan. Semakin sistematis pikiran kita, semakin cerdas otak kita, semakin luas pemahaman kita, semakin banyak pengetahuan kita. Inilah energi yang dahsyat, dampak dari tulisan.

8. Tulisan Memberikan Pemasukan Ekonomi

Apakah tulisan bisa menghasilkan uang? Bisa, jika memang dikemas untuk menghasilkan uang. Karena tujuan dari menulis sangat beragam. Ada orang menulis yang tidak dikorelasikan dengan uang, namun ada pula yang menulis untuk tujuan uang. Masing-masing memiliki konsekuensi yang berbeda.

Yang ajaib adalah para penulis best seller dunia, seperti JK. Rowling yang menjadi kaya raya karena tulisan Harry Potter. Di Indonesia memang tidak sefantastis negara-negara maju dalam hal penghasilan penulis. Namun beberapa penulis sudah menciptakan keajaiban finansial melalui tulisan.

Andrea Hirata dikabarkan memperoleh keuntungan lebih dari 3,6 miliar rupiah dari novel Laskar Pelangi. Habiburahman El Shirazy dikabarkan memperoleh keuntungan 2,4 miliar rupiah dari novel Ayat-ayat Cinta. Dewi Lestari dikabarkan meraih keuntungan lebih dari 1,5 miliar rupiah dari hasil menulis novel Supernova. Bayangkan bila diakumulasikan dengan puluhan novel lainnya yang sudah mereka terbitkan.

Tulisan juga bisa menjadi investasi ekonomi. Lihatlah kitab-kitab yang ditulis para ulama terdahulu. Sampai sekarang terus dicetak ulang dalam berbagai macam bahasa dunia. Seandainya ahli warisnya menerima royalti dari semua cetakan ulang kitab tersebut, tentu menjadi investasi sampai akhir dunia ini.

Bagaimana dengan saya? Tentu saja tidak mendapatkan uang sebanyak mereka. Namun saya memiliki pemasukan rutin dari royalti buku-buku saya yang sudah terbit. Ditambah dengan hasil penjualan langsung dari buku karya sendiri, alhamdulillah, bisa untuk menjalani kehidupan secara layak.

 

 

**********

Ditulis untuk Workshop Penulisan ”Menciptakan Keajaiban Lewat Tulisan”, dari ”Komunitas Ayah Keren” Yogyakarta, Ahad 10 Maret 2019.