Menulis Itu Sehat dan Membahagiakan Hati

Menulis Itu Sehat dan Membahagiakan Hati

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Tulis menulis adalah dunia tanpa batas. Menurut Cucu Magek Dirih, menulis itu menyehatkan dan membahagiakan. Kalau tidak percaya, coba saja sendiri. Mengapa saya katakan dunia tanpa batas? Karena “profesi” menulis itu tidak akan pernah ada matinya. Tidak akan bangkrut.

Bandingkan dengan industri penerbitan buku dan percetakan, misalnya. Saat ini dunia tengah mengarah kepada paperless, dunia tanpa kertas. Selain karena isu go-green dan anti pemanasan global, juga karena kemajuan teknologi informasi yang membuat koran, majalah dan buku tersajikan dalam format cyber. Yang ada nantinya adalah e-news, e-book, e-magazine, sebagaimana sudah lama kita mengenal e-mail dan sarana komunikasi nir-kertas lainnya. Apapun bentuk publikasinya, tetap memerlukan penulis.

Adapun ungkapan Cucu Magek Dirih, bahwa menulis itu menyehatkan dan membahagiakan, bisa kita lihat kiprah dari para penulis yang sudah terkenal. Penulis Indonesia yang bukunya menjadi best seller diantaranya adalah Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik dengan buku Ayat-ayat Cinta dan Andrea Hirata dengan buku Tetralogi Laskar Pelangi. Di dunia internasional sudah banyak penulis yang berhasil sukses dengan penulisan buku, seperti J.K Rowling dengan sekuel novel Harry Potter-nya. Perhatikanlah, mereka telah menyehatkan dan membahagiakan banyak kalangan.

Sebagaimana buku Harry Potter yang diangkat ke film layar lebar, novel-novel yang ditulis Kang Abik dan Andrea Hirata juga sukses menjadi film layar lebar. Buku Ayat-ayat Cinta terjual lebih dari 400 ribu eksemplar dan filmnya masuk box office di Indonesia. Dari royalti bukunya saja Kang Abik mengantongi royalti lebih dari Rp. 2 miliar. Film Ayat-ayat Cinta menyedot lebih dari 3,5 juta penonton. Bahkan karena populernya film ini, konon membuat Presiden dan Wapres RI menyempatkan untuk menontonnya.

Hal serupa dialami oleh Andrea Hirata dengan novel Laskar Pelangi serta tetraloginya. Dari royalti novelnya Hirata memperoleh lebih dari Rp. 3,6 milyar dengan penjualan buku di atas 500 ribu eksemplar. Honor yang diterima Hirata dari Miles Production milik sineas Mira Lesmana ini sebesar Rp. 500 juta. "Itu diluar royalti dari penjualan tiket bioskop dan mechandising Laskar Pelangi," demikian penuturan Dipip dari manajemen Andrea Hirata. Terbukti, film Layar Pelangi mencapai jumlah penonton yang sangat fantastik, di atas 4,4 juta penonton.

Menulis Adalah Terapi

Hasil studi dari Karen Baikie, seorang clinical psychologist dari University of New South Wales dan hasil studi peneliti dari Universitas Texas, James Pennebaker, menunjukkan bahwa di antara manfaat menulis adalah bagian dari terapi kejiwaan. Menurut Karen Baikie, menulis tidak ada batasan usia, dan menuliskan peristiwa-peristiwa traumatik, penuh tekanan serta peristiwa yang penuh emosi bisa memperbaiki kesehatan fisik dan mental.

Dalam studinya, Baikie meminta partisipan menulis 3 sampai 5 peristiwa yang penuh tekanan selama 15 hingga 20 menit. Hasil studi menunjukkan, mereka yang menuliskan hal tersebut mengalami perbaikan kesehatan fisik dan mental secara signifikan. Menurut Baikie, dalam jangka panjang, terapi menulis bisa mengurangi kadar stres, meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh, mengurangi tekanan darah, memperbaiki fungsi paru-paru, fungsi lever, mempersingkat waktu perawatan di rumah sakit, meningkatkan mood, membuat penulis merasa jauh lebih baik, serta mengurangi gejala-gejala trauma.

Terapi ini bermanfaat bagi orang yang memiliki berbagai masalah kesehatan. “Partisipan yang menderita asma dan rematik arthritis menunjukkan adanya perbaikan fungsi paru-paru setelah melakukan tes laboratorium,” kata Baikie.

Menulis, menurut peneliti dari Universitas Texas, James Pennebaker, bisa memperkuat sel-sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan T-lymphocytes. Pennebaker meyakini, menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan akan membantu anda memahaminya. Dengan begitu, akan mengurangi dampak penyebab stres terhadap kesehatan fisik anda.

Menurutnya, menulis adalah aktivitas mengasah otak kiri yang berkaitan dengan analisis dan rasional. Saat melatih otak kiri, otak kanan akan bebas untuk mencipta, mengintuisi, dan merasakan. Menulis bisa menyingkirkan hambatan mental dan memungkinkan seseorang menggunakan semua daya otak untuk memahami diri sendiri, orang lain, serta dunia sekitar dengan lebih baik.