TIGA CARA MUDAH MEMBUAT BUKU, PENGEN TAHU?

TIGA CARA MUDAH MEMBUAT BUKU, PENGEN TAHU?

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Ada sangat banyak cara untuk membuat buku. Namun dalam kesempatan kali ini akan saya ceritakan tiga cara ---dari sangat banyak cara, untuk membuat sebuah buku mandiri. Yang dimaksud dengan buku mandiri adalah buku yang anda tulis sendiri. Berbeda dengan buku antologi, yang biasanya ditulis rame-rame dengan banyak penulis lain. Tentu saja tidak masalah mau membuat buku mandiri atau antologi, itu hanya soal selera. Namun kali ini saya sharing pengalaman cara membuat buku mandiri.

Tentu saja tidak ada cara baku dalam membuat buku ----sepanjang bukan dalam koridor akademik atau ilmiah murni. Tiga cara berikut ini pernah saya praktekkan semuanya untuk menerbitkan buku.

Cara Pertama, Membuat Buku dengan Berkonsentrasi

Yang dimaksud dengan ‘berkonsentrasi’ adalah, benar-benar anda meniatkan diri untuk membuat sebuah buku, pada satu kurun waktu tertentu. Ini menuntut konsekuensi, anda benar-benar menyediakan waktu dan perhatian untuk membuat buku, apalagi jika anda menetapkan batas waktu atau deadline. Semua aktivitas menulis yang anda lakukan adalah dalam upaya untuk menuntaskan penulisan sebuah buku.

Jika cara ini yang anda pilih, maka ada beberapa langkah yang harus anda lakukan.

1. Tentukan jenis tulisan, jenis buku, tema, dan pangsa pasar

Hal pertama ini sudah harus anda miliki. Anda akan menulis jenis apa : fiksi, nonfiksi atau faksi. Jika fiksi, apa pilihan tulisan anda: kuumpulan cerpen, novel, atau yang lain. Jika nonfiksi, apakah tulisan ilmiah murni, atau ilmiah populer, atau yang lainnya. Jenis buku seperti apa yang ingin anda hadirkan : buku saku, buku mini, buku standar, buku tebal atau buku unik? Tema apakah yang akan anda tulis? Siapakah yang akan membaca buku anda kelak?

Menentukan pangsa pasar, akan menentukan sangat banyak hal. Misalnya, jika anda menulis buku untuk anak-anak, maka cara memilih diksi akan spesifik, sesuai dengan dunia anak. Akan berdampak pula pada pemilihan font huruf, ukuran font, tata letak, ilustrasi, cover, warna-warni, dan seterusnya. Demikian pula apabila anada menulis untuk remaja, harus menggunakan diksi, gaya bahasa, cara menyapa yang sesuai dengan dunia remaja. Berdampak pula pada penampilan buku secara keseluruhan.

2. Buatlah outline tulisan

Setelah anda mengerti akan membuat tulisan jenis apa, dengan tema tertentu dan pangsa yang spesifik, maka segera anda jabarkan dalam bentuk outline atau kerangka tulisan. Guna outline adalah untuk menjabarkan tema menjadi satuan pembahasan yang lebih sempit, sekaligus untuk membatasi cakupan pembahasan. Dengan memiliki outline, anda sudah mengerti akan menulis apa saja dalam buku tersebut. Ini akan sangat memudahkan dalam membuat isi tulisan.

Bentuk outline pada dasarnya tidak ada kebakuan, diserahkan kepada kebiasaan dan kemudahan setiap penulis. Bahkan, outline ini pun pada dasarnya bersifat opsional, bukan sebuah keharusan. Namun jika anda ingin membuat buku dengan lebih mudah dan terstruktur, outline menjadi penting untuk anda buat sejak awal.

3. Kumpulkan bahan dan referensi yang diperlukan

Setelah anda membuat outline, maka anda menjadi mengerti akan menulis sisi apa saja dalam buku tersebut. Setelah mengerti bagian-bagian yang harus anda tulis, maka anda mengerti pula kebutuhan akan bahan serta referensi yang menunjang proses penulisan anda. Bahan bisa jadi berupa data dan angka, berupa analisa pakar, berupa landasan teori, dan lain sebagainya.

Jenis referensi sangat beragam. Bisa berupa buku, bisa berupa jurnal ilmiah, bisa wawancara, bisa berupa kliping berita di koran atau majalah, bisa pula berbentuk website atau link tertentu. Berbagai referensi ini perlu dipersiapkan, agar di saat anda perlu merujuk, dengan mudah bisa anda lakukan.

Namun bisa jadi buku anda tidak memerlukan bahan berupa data, tidak pula memerlukan referensi tertentu, karena semua sudah ada dalam diri anda sendiri. Naskah yang berbentuk opini, pada dasarnya tidak mengharuskan adanya referensi, karena naskah tersebut berisi opini pribadi penulis atas tema tertentu. Jadi, persiapan bahan dan referensi bersifat opsional, sesuai kebutuhan.

4. Mulai menulis sesuai outline

Setelah membuat outline dan mengumpulkan bahan, maka saatnya anda mulai menuliskan isi buku, bagian demi bagian. Ingat, kaidah dalam menulis sesuai outline adalah : mulailah dari bagian yang paling mudah. Jangan mulai dari bagian yang paling susah. Karena hal ini akan sangat mempengaruhi semangat anda menyelesaikan tulisan. Jika dari awal anda sudah merasa penuh kesulitan, bisa membuat anda merasa berat sehingga tidak meneruskan penulisan buku.

Kelebihan menulis dengan outline adalah, anda bahkan tidak harus urut dalam menulis. Jika anda membuat buku dalam lima bab, setiap bab dibagi lagi menjadi lima sub bab, maka cara anda menulis bisa dimulai dari bab manapun atau dari sub bab manapun. Tidak harus urut dari bab satu, baru bab dua, baru bab tiga, baru bab empat dan terakhir bab lima. Namun anda bisa mulai dari bab manapun yang anda anggap paling mudah.

5. Melakukan editing

Setelah selesai semua bahan anda tuliskan sesuai dengan outline, maka saatnya anda melakukan editing. Hal sangat penting dalam editing bagi seorang penulis adalah mengedit konten, yaitu penulis harus memastikan bahwa seluruh isi buku tersebut sudah sesuai dengan apa yang dimaksudkan. Karena bisa jadi ada kesalahan tulisan yang mengubah makna secara signifikan.

Untuk itu, anda harus membaca ulang secara keseluruhan tulisan anda, bahkan berulang-ulang, dari awal hingga akhir, untuk memastikan sudah tidak ada lagi kesalahan dalam isi. Ingat, kesalahan isi adalah tanggung jawab penulis. Maka anda harus memastikan tidak ada sisi yang salah dalam tulisan anda, salah dalam konteks value, maupun salah dalam konteks melanggar UU ITE dan melanggar peraturan serta lainnya, seperti bebas dari tuduhan palgiarisme.

Adapun editing teknis, seperti tanda baca, ejaan, paragraf dan lain sebagainya, bisa menjadi tugas para editor di penerbitan mayor, atau mempercayakan kepada editor profesional. Anda tidak harus melakukannya sendiri. Mengedit sungguh memerlukan ketrampilan tersendiri, yang berbeda dengan ketrampilan menulis.

6. Proses produksi buku

Setelah selesai mengedit ---terutama konten, maka langkah selanjutnya adalah produksi buku. Hal ini tergantung dari pilihan anda menerbutkan buku, apakah melalui jasa penerbit mayor, penerbit indi atau self-publishing. Jika anda menggunakan jasa [enerbit mayor, maka semua proses produksi dilakukan oleh pihak penerbit, bahkan sampai ke penjualan buku.

Namun apabila anda menggunakan penerbit indi atau self publishing, maka anda perlu negosiasi dan kesepakatan dengan pihak penyedia jasa, apakah setting, layout, cover dan lain sebagainya, dikerjakan pihak penulis atau pihak penyedia jasa penerbitan. Ini tergantung kesepakatan saja, karena akan menimbulkan efek dan dampak yang berbeda.

Cara Kedua, Membuat Tabungan Naskah Terarah

Cara kedua dalam membuat sebuah buku adalah dengan membuat “tabungan naskah terarah” untuk buku. Maksudnya, anda membuat naskah-naskah pendek dengan tema yang sesuai dengan tema buku yang akan anda terbitkan. Ini yang dimaksud dengan ‘terarah’. Setiap hari anda bisa menulis naskah pendek untuk diposting di web, blog atau sosmed, dengan tema yang sudah terarah, yang nantinya akan bisa menjadi sebuah buku.

Perbedaan utama dengan cara pertama adalah soal konsentrasi. Cara pertama membuat anda harus benar-benar berkonsentrasi untuk merampungkan sebuah buku. Dengan cara kedua ini, anda akan lebih santai, dan membuat buku terasa lebih ringan. Tidak terasa berat, karena tugas anda setiap hari hanya membuat minimal satu naskah pendek. Hanya saja memerlukan waktu yang lebih lama dibanding cara pertama.

Jika anda memilih cara kedua untuk membuat buku, maka anda harus melakukan beberapa langkah berikut ini.

1. Tentukan jenis tulisan, jenis buku, tema, dan pangsa pasar

Sama dengan cara pertama di atas. Anda sudah harus menentukan akan membuat buku berjenis apa, dengan tema apa, dengan pangsa pasar siapa. Tentukan dengan jelas berbagai hal mendasar ini, untuk mempermudah anda dalam membuat tabungan naskah.

2. Buatlah outline tulisan

Sebagaimana pada cara pertama, anda juga harus menjabarkan tema ke dalam bentuk outline atau kerangka tulisan. Dengan memiliki outline, anda sudah mengerti akan menulis apa saja dalam buku tersebut. Ini akan sangat memudahkan anda dalam membuat tabungan naskah. Semakin detail anda membuat outline, semakin mudah pula bagi anda untuk menuliskan menjadi tabungan naskah terarah.

3. Memulai membuat tabungan naskah

Dari outline yang sudah anda buat, anda bisa segera membuat bagian demi bagian sesuai dengan outline yang sudah anda tetapkan. Setiap hari anda menulis, dan targetkan bisa membuat minimal satu naskah pendek, yang sesuai dengan outline. Anda bisa mengambil bagian atau sub-bagian tertentu yang lebih mudah untuk anda tuliskan terlebih dahulu.

4. Memposting bagian demi bagian

Apabila anda mengelola akun facebook atau fanspage atau instagram misalnya, maka satu naskah pendek tersebut bisa anda jadikan sebagai sebuah postingan di medsos tersebut. Jadi, satu sisi anda update status, namun di sisi lain, anda tengah menyelesaikan bagian demi bagian dari outline buku yang sudah anda canangkan. Orang bilang, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Anda juga bisa memposting naskah pendek tersebut di media cetak seperti koran, majalah atau jurnal. Bisa juga memposting di web atau blog. Keseluruhan naskah anda tersebut, seakan-akan tampak sebagai naskah yang saling terpisah dan tidak berhubungan satu dengan lain. Hanya anda yang mengetahui bahwa seluruhnya saling terhubung, karena sedang membentuk sebuah buku.

5. Manajemen naskah

Hal yang sangat penting adalah mengelola semua naskah yang sudah anda tulis dan sudah anda posting. Bisa jadi ada naskah yang sudah anda tulis namun tidak anda posting. Inilah yang disebut sebagai ‘tabungan naskah’, dimana anda memiliki banyak naskah pendek, yang sudah dipublikasikan melalui web, blog atau sosmed, dan menjadi bagian dari isi buku.

Pastikan bahwa semua naskah tersebut sudah tersimpan dengan baik, sehingga tidak ada yang hilang atau tercecer. Apalagi jika anda terbiasa menulis dengan alat yang berbeda-beda. Misalnya, kadang menggunakan laptop karena sedang di rumah, pada waktu yang lain anda menulis dengan gadget karena sedang travelling, bahkan kadang dengan PC saat di kantor.

6. Menyusun semua tabungan naskah menjadi buku

Setelah semua atau sebagian besar bagian dari outline sudah anda tuliskan, maka saatnya anda menyusun semua tabungan naskah tersebut dalam satu kesatuan. Anda tinggal memasukkan semua naskah tersebut ke dalam outline buku, dan melakukan review menyeluruh, apakah semua bagian outline sudah ada bahan tulisannya. Jika masih ada sub-bagian yang belum ada naskahnya, maka tinggal anda menambahkan tulisan di bagian yang masih kosong tersebut.

Anda tetap harus melakukan editing terhadap isi, dan melakukan penyelarasan sesuai kebutuhan. Anda bisa menambah atau mengurangi, atau memindahkan, atau melakukan berbagai perubahan, agar keseluruhan naskah yang semula bertebaran di berbagai postingan, kini layak menjadi sebuah buku yang sistematis dan logis.

Cara Ketiga, Membuat Tabungan Naskah Bebas

Perbedaan cara kedua dengan cara ketiga ini adalah, pada konteks pembuatan tabungan naskah. Pada cara kedua, pembuatan tabungan naskah sudah terarah, sesuai tema yang akan dijadikan buku, bahkan sudah sesuai dengan outline buku. Hanya saja cara menulisnya sebagian demi sebagian. Pada cara ketiga ini, anda hanya menulis saja, apapun yang ingin anda tulis, dan memposting tulisan anda.

Anda bisa menulis secara bebas dan leluasa, apapun yang bisa anda tulis, sesuai minat, kecenderungan, momentum, situasi dan kondisi. Sesekali waktu anda menulis cerpen, sesekali waktu anda menulis puisi, pada waktu yang lain anda menulis artikel, opini, feature, dan lain sebagainya. Sesekali waktu anda menulis naskah dengan tema aqidah, di waktu lain anda menulis dengan tema ibadah, di hari lain anda menulis tema politik, esok hari anda menulis tema ekonomi, besoknya lagi anda menulis tema budaya, dan seterusnya.

Anda memiliki sangat banyak jenis naskah, dengan berbagai bentuk tulisan, berbagai gaya bahasa, berbagai tema. Semua anda kumpulkan, anda kelola, anda simpan dengan rapi dalam folder tersendiri. Inilah yang disebut sebagai tabungan naskah bebas. Jika sudah mencapai jumlah yang memadai, anda bisa membuat menjadi sangat banyak buku sesuai dengan kategorisasi, sesuai tema ataupun sesuai momentum.

Jika anda ingin membuat buku dengan cara ketiga ini, maka yang harus anda lakukan adalah:

1. Menulis bebas setiap hari

Biasakan menulis naskah setiap hari, walaupun pendek, namun sudah membentuk satu pesan yang utuh. Biarkan pikiran anda, perasaan anda, jiwa anda membimbing anda untuk membuat minimal satu pesan setiap hari melalui tulisan. Apapun yang terbersit dalam hati dan pikiran anda setiap hari, tuliskan menjadi kalimat inspirasi dan motivasi. Jadikan waktu-waktu anda terkelola dengan baik, sehingga ada kesempatan untuk menuliskan minimal satu pesan kebaikan melalui naskah setiap hari.

2. Memposting tulisan setiap hari

Naskah yang sudah anda tulis setiap hari, hendaknya tidak anda simpan. Postinglah nakah anda tersebut setiap hari, baik melalui media cetak, web, blog, ataupun medsos. Mengapa harus mentarget memposting tulisan? Karena hal inilah salah satu bagian yang menyemangati anda dalam menulis selanjutnya. Jika anda menulis hanya untuk disimpan, maka tidak ada tantangan, dan kurang memberikan kemanfaatan.

Ingat tulisan anda memiliki nilai keajaiban yang luar biasa, maka jangan disimpan. Postinglah setiap hari.

3. Mengelola naskah

Proses penting berikutnya adalah mengelola semua naskah bebas anda tersebut. Jika anda multi talenta, yang bisa menulis sangat banyak jenis tulisan, maka anda harus memiliki banyak folder di laptop atau komputer, agar semua naskah tersimpan dengan baik, dan tidak ada yang tercecer.

Misalnya, folder cerpen, folder puisi, folder artikel ilmiah murni, folder artikel ilmiah populer, dan lain sebagainya. Bisa juga folder sesuai tema, misalnya folder politik, folder pernikahan, folder keluarga sakinah, folder ekonomi, folder motivasi, folder budaya, folder fikih perempuan, folder ibu, folder anak, dan lain sebagainya.

Semua file yang tersimpan dalam berbagai folder tersebut, adalah tabungan naskah anda. Kelak akan bisa menjadi buku tersendiri.

4. Mewujudkan buku sesuai ketersediaan naskah

Setelah bertahun-tahun anda menabung, maka anda bisa melihat saldo tabungan anda di berbagai folder tersebut. Jika ada salah satu folder yang isinya sudah mencukupi, maka anda bisa panen. Contoh, dari seluruh folder tersebut yang paling banyak isinya adalah folder motivasi. Maka tema motivasi ini sudah layak untuk anda olah menjadi sebuah buku.

Tidak elok anda membuat buku berjudul “Kumpulan Naskah yang Saya Simpan di Laptop”, oleh karena itu anda harus mengolah agar tidak hanya sekedar kumpulan tulisan. Anda perlu melihat seluruh isi folder motivasi tersebut, ada berapa naskah, berisi tentang apa saja. Dari seluruh naskah tersebut, bisakah disistemtisir menjadi bab-bab, atau bagian-bagian, atau judul-judul, sehingga lebih indah dan lebih enak untuk menjadi sebuah buku.

Jika anda tidak memiliki waktu yang cukup, anda bisa meminta bantuan pihak lain untuk mewujudkan semua naskah tersebut menjadi buku. Bisa teman sendiri ----gratisan, bisa pula para expert dan profesional di bidang editing buku. Masing-masing memiliki konsekuensi yang berbeda.

Nah, itulah tiga cara membuat buku. Anda memiliki cara lainnya? Silakan share di sini.

 

 

Yogyakarta, 8 Maret 2019